Yuk Explore Wajah Baru Taman Ismail Marzuki (TIM), The New ‘Oase’ In Jakarta

Time flies, but memories stay. Sambil menikmati roti gambang khas Tan Ek Tjoan langkah Saya terhenti, seperti menghadap ke jendela yang memberikan ruang untuk langit. Rasanya beda sekali. Setelah berjalan kaki menikmati trotoar yang nyaman hasil Revitalisasi Cikini Raya, sampai di depan kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) layaknya menemukan oase untuk mata. Pemandangan yang sangat fresh, konsep bangunan unik nan ramah lingkungan seakan menyapa saya. Dan tersadar, sudah 2 tahun lebih sejak Revitalisasi TIM dimulai. Sudah ada ‘yang baru’ apa aja ya di sini?


   Setelah mencoba mengirim post card dari Kantor Pos Cikini, kemudian berfoto ria di depan Warung Kopi Legenda Bakoel Koffie, lalu menikmati roti kesukaan Bung Hatta sembari melihat eks Pabrik Roti Tan Ek Tjoan, plus lokasi bersejarah lainnya, saya pun sampai di Taman Ismail Marzuki, yang bisa dibilang finish line jika kita melakukan walking tour di Kawasan Cikini RayaAtau yang mau lanjut kulineran di sekitaran Stasiun Cikini juga boleh, tapi melihat perubahan TIM saat ini, dijamin bakal lama sih kalau main di sini!

 

Masih segar di ingatan, dulu tuh TIM tak ‘seterang’ ini! Banyak pohon tapi minim cahaya yang masuk. Warna cat di segala sisi pun sudah sangat pudar, kondisinya cukup memprihatinkan dengan banyak bangunan yang tak beroperasi secara maksimal. Ditambah konsep dan tata letak gedung yang cukup membingungkan (atau Saya doang? haha) dan rada ‘spooky’ untuk sebuah pusat kesenian. Intinya sangat disayangkan jika melihat antusias masyarakat, khususnya yang berjiwa seni dan kreatif, terhadap keberadaan TIM.


Wajib kalau main ke Cikini Raya....

3 Juli 2019, revitalisasi TIM pun dimulai. Sudah lebih dari 50 tahun berdiri dan beroperasi dengan banyak memberikan ruang bagi para seniman untuk tampil dan berkembang, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki (TIM) ini dianggap layak oleh Pemprov DKI Jakarta untuk bermetamorfosis, tampil dengan wajah baru yang futuristik dan kekinian sebagai ikon kota yang berkarakter serta wahana ekspresi talenta, demi menyelaraskan lengkapnya wisata yang ada di Jakarta. TIM Urban Tourism, agree?

 

Sampai saat ini, revitasliasi TIM sudah memasuki tahap 2, dari 3 tahap yang akan dieksekusi. Dan serunya lagi, kita sebagai masyarakat umum berkesempatan melihat langsung perkembangan ter-update Wajah Baru TIM setiap hari Kamis mulai pukul 3 sore, dengan cara mendaftar terlebih dahulu melalui link bit.ly/KunjunganTIMdan pastikan kalian sudah divaksin minimal dosis 1 serta mematuhi protokol kesehatan dan peraturan selama berada di lokasi nantinya…. Jujurly, Saya senang sekali dapat kesempatan tersebut!


Bagian depan yang dulunya gerbang TIM

TIM, Oase Baru di Sejarah Panjang Cikini Raya

Mulai dari bangunan bersejarah, tempat-tempat dengan cerita seru dan unik, serta kuliner legendaris semua ada di sepanjang Cikini Raya. Saya yakin banyak orang yang punya kenangan di sana. Kalau kita coba jalan kaki di sepanjang trotoar Cikini Raya yang sudah diperbaiki, sesampainya di depan TIM pasti langsung terasa beda. Setelah melihat deretan gedung-gedung di kanan dan kiri sepanjang trotoar, Kawasan TIM seakan menjadi oase dengan menyuguhkan view langit dan taman hijau sebagai ruang terbuka untuk bersantai. Rasanya ingin langsung berpiknik ria di sana, sayangnya belum dibuka untuk umum dan selesai sih, hehe.

 

“Akan lebih banyak ruang terbuka hijau”, informasi yang saya cerna dari penjelasan pihak PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro sebagai Pelaksana Penugasan Proyek Revitalisasi PKJ-TIM. Dalam merealisasikan konsep The New Creative Hub & Art Center dan The New Urban Torism Destination sebagai konsep keseluruhan untuk wajah baru Taman Ismail Marzuki, Jakpro menggandeng seorang arsitetur yang telah banyak menghadirkan karya kekinian yang luar biasa yaitu Andra MatinKalian tahu Potato Head Beach Club Bali? Atau Aquatic Center Gelora Bung Karno? Nah, dia itu yang merancang konsep bangunannya.


Peran TIM sebagai simpul ekosistem kebudayaan akan dikombinasikan dengan desain ramah lingkungan, ramah disabilitas, dan banyak mengoptimalkan ruang publik. Revitalisasi TIM oleh Pemprov DKI Jakarta melalui Jakpro ini seolah ingin mengembalikan jiwa dari Taman Ismail Marzuki yang perlahan memudar, me-recharge hasrat seni dan kreatifitas masyarakat untuk merealisasikannya, serta mengkokohkan kembali predikat TIM sebagai pusat kesenian terbesar dan tertua di Jakarta bahkan di Indonesia. 

 

Saya teringat cerita Pak Andra kala itu, saat memenangkan sayembara di 2007, kemudian Ia melihat lokasi TIM, Ia sempat berfikir kalau TIM lebih seperti Taman Mobil, karena pas sampai di sana yang terlihat justru mobil-mobil yang membuat sesak dan padat. Ditambah visualisasi yang saya gambarkan di awal, rada gelap dan cat memudar. Kalian bisa bayangkan sendiri. Bentuk terdahulu TIM juga seolah menutup IKJ, hal yang sangat disayangkan, padahal seharusnya bisa dibuat satu kesatuan. 


“Sebelum direvitalisasi, penyerapan air ke tanah di Jakarta hanya 11% dan setelah TIM selesai nantinya, penyerapan akan bertambah 27,2%. Jadi di TIM akan banyak spot-spot yang dijadikan daerah penyerapan air. Salah satunya di halaman Masjid Amir Hamzah” ujar Pak Andra Matin terkait konsep ramah lingkungan dan solusi bebas genangan seputar Cikini Raya. Ia juga menegaskan bahwa nantinya TIM akan kembali menjadi ruang publik untuk para komunitas yang ‘mungkin’ telah kehilangan tempat kumpulnya. 


Uniknya Wajah Baru TIM, Ada Apa Aja Sih?

Info ter-update (20/11) dari akun Instagram @jakprogroup dan @wajahbaru_tim, secara keseluruhan, Tahap 1 Revitalisasi TIM telah mencapai 99,04% yang meliputi pembangunan Taman Gedung Parkir, Gedung Perpustakaan dan Wisma Seni (yang ada di dalam Gedung Panjang) serta Masjid Amir Hamzah.  Menyusul di Tahap 2, sudah 41,63% pembangunan serta perbaikan sekitaran Planetarium, Graha Bhakti Budaya, Gedung Annex, dan Teater Halaman. Sedangkan Tahap 3 berada di 26,08% dengan pengerjaan di bidang interior Gedung Perpustakaan dan Wisma Seni, Special Lightning Taman Atap Gedung Parkir, hingga interior Graha Bhakti Budaya. Sumpah sih! Gak sabar semuanya selesai akutuh…..


Jika ikut kunjungan publik yang diadakan setiap hari Kamis, yang saya mention sebelumnya, kita bisa melihat dan menikmati beberapa bangunan utama dari Wajah Baru TIM, mulai dari masuk ke Gedung Panjang lalu ke lantai atas, beribadah atau rehat sejenak di Masjid Amir Hamzah, serta duduk bersantai di taman yang ada di atas Gedung Parkir. Oh iya, Kita juga berkesempatan untuk masuk ke Teater Besar dan Teater Kecil loh… boleh naik panggungnya juga, kapal lagi coba!

 

Sambil explore tiap sudut wajah baru TIM, pikiran saya sudah melayang jauh merencanakan hal-hal yang mungkin akan saya lakukan ketika Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki ini sudah selesai dan dibuka untuk umum. Penasaran enggak apa saja?

 

Menikmati Sore di Gedung Parkir Taman

Saya seperti melihat keluar jendela ketika berhadapan dengan Gedung Parkir Taman ini. Area hijau dengan gedung tinggi di kanan dan kirinya. Bentuk bangunannya modern dengan memperhatikan aspek lingkungan dan fungsional. 


Gedung Parkir Tamanadalah bagian dari wajah baru TIM yang pertama mencuri perhatian saya. Area hijau di bagian atap Gedung Parkir yang difungsikan sebagai ruang terbuka publik, dan bisa digunakan mayarakat untuk kegiatan kesenian serta kegiatan positif dan kreatif lainnya. Namun kalian harus tahu, di gedung ini tak hanya ada taman saja, tapi juga ada Dinas Pemadam Kebakaran di bagian bawah, serta area parkir tentunya. Kerennya lagi, konsep area parkir yang dihadirkan di dalam gedung ini mengandalkan banyak skylight agar tak pengap dan udara tetap mengalir di area tersebut, dan pastinya hemat listrik juga.


Btw, kalian tahu kan kalau Kawasan TIM itu dulunya halaman rumah Raden Saleh? Dan banyak binatang peliharaan beliau di sini. Setelah Raden Saleh wafat, kawasan ini pun dihibahkan ke negara dan sempat menjadi Kebun Binatang Cikini sebelum akhirnya kebun binatang tersebut dipindahkan ke Ragunan. Saat duduk dan menikmati pemandangan sekitar sore itu, saya merasa seperti kembali berada di halaman rumah tersebut, untungnya sih tak ada binatang yang lewat, haha.

 

Dari Gedung Parkir Taman ini, kita bisa melihat hiruk-pikuk salah satu sudut Cikini Raya dengan kendaraan lalu-lalang, dan mungkin sesekali bunyi klakson. Tak lupa juga Rumah Putih dengan pagar yang mewah nan megah. Kalian tahu rumah siapa? Yaitu Rumah Hasjim Nim, orang yang dijuluki ‘Raja Mobil Indonesia’ karena bisnis impor mobil Amerika yang dilakukannya kala itu. Ia juga dikenal sebagai ‘Dompet berjalannya Bung Karno’ karena kekayaannya.


 

Berburu Inspirasi di Gedung Panjang

Bangun selanjutnya adalah Gedung Panjang. Nama gedungnya sendiri terkesan ‘belum pasti’, mungkin nanti akan ada perubahan. Panjang gedungnya mencapai 200 meter, dengan total 14 lantai. Beberapa fasilitas penting dan kekinian akan hadir di dalam gedung ini, mulai dari wisma seni hingga co-working spacePas berkesempatan memasuki gedung ini, sumpah sih lelah banget karena lift belum berfungsi dan harus menggunakan tangga. Hiks.


Gedung Panjang adalah wajah baru TIM yang sangat dibanggakan, dan pastinya memiliki daya tarik tersendiri. Kalau lewat Cikini Raya, kemungkinan besar pasti nengok ke gedung ini. Terinspirasi dari kapal phinisi, bentuk Gedung Panjang akan sangat unik dan megah jika kita bisa melihatnya dari atas. Wajar sekali jika gedung ini dijadikan simbol/ikon bangunan bagi wajah baru TIM, apalagi kalau kita sadar akan detail ekteriornya yang mengambil/mentransfer tinggi rendahnya not dari lagu Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki untuk dijadikan fasad di Gedung Panjang ini. 

 

Sejujurnya saya pribadi juga gak sadar akan hal itu, kalau enggak dijelaskan, dan mungkin juga karena gedung masih belum berwarna. Mungkin jika sudah diberi warna, akan ada keterangannya jadi semakin mudah terlihat, hehe.


Untuk pemanfaatannya, mulai dari lantai 1 sampai 3 akan difungsikan sebagai cafetaria dan ruang publik, kemudian lantai 4 hingga 7 digunakan sebagai Perpustakaan Daerah dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang didesain senyaman mungkin, dengan tambahan detail elemen motif tumpal dari Batik Betawi untuk mereduksi sinar matahari yang masuk ke perpustakaan. FYI nih ya, Pusat Dokumentasi HB Jassin yang ada di TIM ini merupakan pusat dokumentasi sastra terlengkap di dunia loh.... Bangga banget kan!



Lalu secara terasering ke atas, dari lantai 8-12, gedung ini menghadirkan fungsi Wisma Seni yang memiliki 139 unit/kamar, dengan 80% konsepnya akan dibuat bunk bed untuk para seniman yang mengadakan acara di TIM, dengan tujuan agar seniman/pelaku seni yang menggunakan atau akan melakukan event di TIM dapat beristirahatnya sambil ‘guyup’ untuk kegiatan esoknya. Oh iya, wisma tersebut juga akan memiliki fasilitas kolam renang dengan view landscape Jakarta yang memukau loh!



Melalui gedung ini, kita bisa melihat proses pengerjaan gedung sekitarnya, bagaimana Jakpro secara serius membuat sarana di TIM menjadi pusat wisata edukasi kesenian dan kebudayaan. Dan semoga setelah tugas Jakpro selesai, pengelolaan berbagai kegiatan di TIM juga dilakukan dengan serius. Duhhh, gak sabar ikut berbagai kegiatan yang bakal hadir di TIM, yeay!

 

Can’t wait for Planetarium!

Akan ada kubah yang sangat mencolok kalau kita ke TIM, yaitu kubah Planetarium, yang saat ini masih kokoh berdiri di tengah proses revitalisasi gedung-gedung sekitarnya. Karena Planetarium merupakan bangunan cagar budaya serta wahana simulasi langit tertua di Indonesia, jadi tidak ada perombakan sama sekali, hanya dilakukan upgrading dalam interiornya saja. Di pikiran Saya, harusnya Planetarium nantinya bakal ‘next level’ sih, jadi fungsinya bisa lebih modern.


Tempat pameran lukisan seperti Galeri Cipta 1, 2 dan 3 juga akan hadir dengan  tampilan baru, ditambahnya dengan Pusat Latihan Seni Budaya.

 

Yeay! Teater Arena Hadir Lagi!

Beneran sih, seneng banget pas tahu kalau Teater Arena bakal hadir lagi di TIM. Dari dulu pengen banget nonton pertunjukan yang duduknya mengitari panggung. Dan langkah TIM menghadirkan konsep tempat pertunjukan ini patut diapresiasi. Pusat Film juga akan hadir satu gedung jika melihat diorama gedung TIM secara lengkap. Kebayang aja gitu di pikiran saya nanti bisa melihat pertunjukan di Teater Arena terus main-main ke Pusat Film, hehe.

 

‘Tampil’ di Teater Besar & Kecil

Terakhir kali ke nonton pertunjukan di Teater Besar itu pas nonton Mamma Mia, 3 tahun lalu, dan pas kemarin ke sana ternyata tak ada perubahan yang jelas terlihat. Karena faktanya, Teater Besar dan kecil termasuk gedung 'masih' baru sehingga belum diperlukan untuk melakukan perombakan. Mungkin hanya ada renovasi/perbaikan kecil saja, misalnya AC dan kursi-kursi yang rusak. 


Salah satu hal menyenangkan ketika mengikuti kunjungan Revitalisasi TIM adalah kita berkesempatan masuk ke dalam Teater Besar kemudian naik ke panggungnya. Serasa mau tampil, padahal baca puisi di depan anak sekelas aja gemeteran, apalagi di panggung teater dengan kapasitas 1200 penonton, hahahaha.


 

Menyaksikan Opera di Graha Bhakti Budaya!

Graha Bhakti Budaya, untuk teater opera legendaris yang satu ini nantinya akan disesuaikan dengan kapasitas dalam penampilan terbarunya. Kapasitas terakhir di angka 848 kursi. Setidaknya teater ini akan dihidupkan kembali meskipun sudah ada Teater Besar, hehe.

 

Menenangkan Diri di Masjid Amir Hamzah

Modern dan minimalis, konsep yang menjadikan sebuah tempat punya sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik. Seperti Masjid Amir Hamzah TIM ini,  Saya suka sekali saat beribadah di sini, apalagi katanya ketika matahari berada tepat di puncaknya dan cahaya masuk akan membentuk garis shaf sholat secara alami. Saya wajib balik lagi dan melihatnya secara langsung sih...

 

Di sekitaran masjid juga terdapat kolam yang berfungsi sebagai penampung air ketika musim hujan, dan di halamannya terdapat pohon yang memiliki fungsi sebagai daerah resapan. Uniknya, pohon tersebut dipindahkan dengan system earth balling, sehingga akar pohon tetap dalam kondisi baik ketika ditanam kembali. Halaman tersebut juga bisa dijadikan tempat komunitas atau kegiatan positif lainnya loh…


Nama masjid ini diambil dari nama Sastrawan Indonesia yang memiliki julukan ‘Raja Penyair Pujangga Baru’, yaitu Amir Hamzah. Sempat terpikirkan, apakah rasa nyaman dari masjid ini bisa membuat Saya menulis puisi-puisi seperti beliau? Fix Saya harus balik lagi sambil bawa kertas dan pena. Kalau kalian ke sana, suasananya tuh nyaman dan menenangkan banget deh, ditambah hembusan angin dan ilalang yang bergoyang di atas masjid membuat mudah berimajinasi

 

Penasaran Sama Gallery Annex!

Wajah Baru TIM juga akan kehadiran rumah bagi karya seni rupa, khususnya untuk pameran barang-barang seni yang ukurannya cukup besar, yaitu Gallery Annex. Saya pribadi belum dapat banyak info sih, tapi kalau perkiraan saya benar, galeri yang berada di belakang Gedung Panjang ini akan menjadi pioner untuk Taman Ismail Marzuki sebagai etalase karya seni dan budaya yang lebih baik. 


Saya juga punya harapan kalau wajah baru TIM ini nantinya bisa memberikan semangat dan energi positif kepada semua pengunjungnya. Seperti nama tempat ini yang diambil dari nama Komponis terkenal asal Betawi, Ismail Marzuki, yang banyak menciptakan lagu-lagu pembangkit semangat nasionalisme. Aamiin.



So, segitu aja informasi tentang Wajah Baru TIM yang Saya dapatkan saat melihat langsung progres Revitalisasi TIM beberapa waktu lalu. Berasa banget kalau  infrastrukturnya bertaraf internasional. Dan bocoran nih, katanya sih bakal buka di Februari 2022, semoga gak mundur lagi ya… Aamin! Eh, tapi Ada yang mau ke sana bareng gak????

2 comments

  1. Aduh, aku udah gak sabar Planetarium dibuka lagi, bisa nonton pertunjukan di gedung teater TIM.

    ReplyDelete
  2. Penasaran sama perpustakaannya! Semoga cepet jadi dan bisa mampir berkunjung ke sini. Hihi :D

    ReplyDelete