Review Film Preman Pensiun!

12:28:00 AM

“Untuk pecinta serial televisi Preman Pensiun, film ini wajib untuk disaksikan. ‘Naik kelas’ kalau kata saya. Konsistensi para pemainnya ‘mungkin’ harus diacungi jempol. Karya terbaru dari MNC Pictures yang satu ini juga menampilkan hal baru yang membuat saya bertahan menontonnya”

Tidak ada bayangan sama sekali jalan ceritanya bagaimana. Jujur, pengetahuan saya sangat cetek untuk serial ini, hanya nonton sekilas, yang jelas saya tahu serial Preman Pensiun pernah ada dan tayang di TV, tepatnya 3 tahun lalu, dan berhasil mencuri perhatian masyarakat Indonesia dengan total 120 eposidenya, info ini pun saya tahu dari google, hehe. Cukup lama saya berdiri di depan poster film Preman Pensiun. Bisa dibilang, Epicentrum XXI – Jakarta milik MNC Pictures, selaku rumah produksi film yang dipastikan tayang 17 Januari mendatang kala itu. Semua poster film ini!


Poster film ini cukup menarik perhatian saya, terutama warnanya. Namun untuk para pemainnya, saya hanya kenal yang paling depan, yaitu Epy Kusnandar, meskipun ada banyak nama yang terpampang di poster karya Angga Bhaskara dan Faisal Akbar tersebut. Bagi orang yang sering, suka, atau setidaknya nonton serial Preman Pensiun lebih dari 3 kali mungkin akan hafal siapa saja orang yang ada di poster. Kemungkinan besar nama karakternya, bukan nama aslinya, dan langsung berkata “Eh ada dia lagi”. Satu kekuatan bagi film ini adalah, 'nampaknya' semua tokoh sudah punya ciri khas tersendiri.

Mengambil judul yang sama dengan serial di TV, Film Preman Pensiun langsung membuat saya berpikir, ‘ini sebuah film apresiasi’ untuk para pemainnya. Terlebih ketika saya tahu kalau ide cerita, skenario, dan sutradara masih dari orang yang sama, yaitu Aris Nugraha. Film ini seraya berkata, “kami satu paket”. Tapi film ini jelas tampil lebih serius ketika saya mulai diajak masuk menikmati tata kamera dan artistiknya.

Film Preman Pensiun sejatinya adalah lanjutan dari apa yang terjadi di serial TV, sehingga jangan kaget jika akting para pemainnya sama saja. Ini menurut saya loh ya, ketika saya mencoba menginggat serpihan tentang preman pensiun di kepala saya. Atau mungkin lebih serius bagi kalian yang tahu dan paham betul karena tak pernah melewatkan satu episodenya. Tapi, bisa jadi hal tersebut adalah sisi 'baik' dari film ini, karena terbilang konsisten dalam melengkapi sebuah cerita yang notabenenya 'lanjutan'. Dan tentunya, secara tak langsung membuat Aryo Setiawan selaku penata rias dan busana dalam film ini juga bekerja sangat baik, karena look para tokoh di film juga sama dengan serialnya.

Yang paling saya kagumi adalah kerja keras dari Gunung Nusa Pelita dan timnya, selaku penata kamera di film Preman Pensiun, yang menjadikan keutuhan cerita ini ‘naik kelas’ dengan benar. Dari sudut pengambilan gambarnya, beberapa adegan film ini terasa sangat dramatis dan pas di mata saya sebagai penonton. Saya suka adegan fightingnya, adegan saat tokoh Muslihat (Epy Kusnandar) dan Istri melihat anaknya pergi dengan pacarnya, serta adegan para ex preman suruhan Muslihat yang mengancam pacar anaknya.

Melengkapi keseriusan tata kamera dalam film ini, penataan artistik dari Andromedha Pradana juga tak boleh diabaikan. Detail propertinya cukup berpengaruh dalam film, menjadi banyak adegan bercerita dengan sendirinya. Meskipun kadang terdistrak dengan potongan-potongan dialog yang sangat bekerja keras menghibur penonton, khususnya saya. Peran Adi Siswanto dalam memberikan visual efek juga ‘bisa jadi’ memuaskan untuk film ini. Saya enggak tahu pastinya, yang jelas di mata saya dalam film ini, bayangan, sinar matahari yang masuk lewat jendela, dan asap-asap makanan  serta asap motor yang terlihat bergitu 'indah' dan pas. Entah itu asli atau efek.


Seperti yang saya bilang di awal. Saya menyaksikan film Preman Pensiun duluan, karena film ini sebenarnya akan tayang tanggal 17 Januari 2019. Salah satu kelebihan untuk saya, saya bisa tahu alasan mengapa beberapa kelemahan dalam film ini (yang menurut saya) terjadi karena berkesempatan juga mengikuti press conferencenya. Kekuatan dialog yang masih terbilang ‘biasa banget’, receh, dan enggak lucu untuk saya. Entah untuk kalian pecinta Preman Pensiun bagaimana, nonton aja nanti. Dan info yang saya dapat, skenario film ini baru ada 14 hari sebelum jadwal syuting. Waw, Pak Aris tentu sangat bekerja keras dalam hal ini, yang kemudian diikuti para pemainnya.

Sepanjang film ini, saya juga dibuat kangen dengan Bandung, mulai dari dialog hingga lokasi film yang 100% di bumi pasundan. Ditambah alunan musik sunda yang membuat beberapa scene terasa sangat nyaman. Saya sempat ingin melupakan jalannya cerita yang tak tahu ke mana arahnya, dan ujungnya, karena terlalu banyak masalah yang ingin diangkat atau ditampilkan bahkan hingga akhirnya pun masih membuat saya bertanya-tanya. “Bisa jadi ada lanjutannya yang lebih seru”. Untuk kategori serial, mungkin formula tersebut cocok, tapi untuk film saya rasa tidak.

Tak sampai 2 jam. Secara keseluruhan, film Preman Pensiun ini cukup menyegarkan pikiran dan memanjakan mata dengan color grading yang bagus. Setidaknya di mata saya, film ini memilih kombinasi warna seperti feed-feed instagram yang kekinian, dengan warna redup yang nyaman di mata, dan ketika dikombinasikan dengan tata artistik, serta sudut pengambilan gambar yang pas, film ini menjadi lebih memiliki efek cinematik yang membuat MNC Pictures kembali menemukan ‘ramuan rahasia’ dalam membaut sebuah karya.

Saya masih ingat ketika film Mars Met Venus hadir, saya suka sekali bagaimana film tersebut membangun cerita dari dua sisi. Kemudian Meet Me After Sunset dengan permainan warna dan efek yang membuat ceria. MNC Pictures punya ciri khas ketika film itu tayang, dan berharap tanggal 17 Januari mendatang ‘ciri khas’ yang saya lihat dalam film Preman Pensiun juga bisa menarik hati penonton. Amin.

You Might Also Like

0 comments