Awas! Banyak ‘Kode’ di Gunung Sunda Sukabumi Yang Bikin Baper

Selain Bandung, kota yang satu ini juga sangat tepat untuk dikunjungi jika kita hanya punya waktu singkat untuk liburan. Sukabumi, kota yang ‘menyumbangkan’ darahnya ke tubuh saya. Ayah saya urang Sukabumi, dan hampir tiap lebaran saya berkunjung ke kota ini. Banyak perubahan yang terjadi, dan sudah seharusnya, seperti akses jalan dan gedung-gedung baru yang menunjukan perkembangan yang positif. Suasananya juga tak seperti dulu lagi. Masih dingin sih kalau pagi, tapi tak lama. Saya kangen masa itu, jam 10 pagi saja masih asik main di sawah, tak berlindung di balik bayangan.


   Alasan klasik orang kota. Orang yang lebih lama tinggal di tempat ramai dan mulai jenuh tepatnya. Ingin mencari udara segar, menjernihkan pikiran dan tak ingin berlama-lama di perjalanan. Lebih karena tak punya waktu banyak sih, hehe. Akhirnya saya memilih dan berkesempatan untuk liburan ke Sukabumi. Kota yang masih punya tempat di ingatan saya.

Dari Jakarta atau Depok tentunya udah enggak ribet lagi kalau mau ke Sukabumi. Bisa naik kereta , bus atau travel dan semuanya sudah terfasilitasi dengan sangat nyaman. Dan saya rasa, kota di sekitar Sukabumi juga sudah mudah aksesnya, banyak bus tujuan Sukabumi. Kalau disuruh pilih, kereta adalah pilihan utama saya karena keunggulan waktunya. Tapi harus cepat-cepat beli tiketnya agar tak kehabisan.

Tempat Wisata Sekaligus Olahraga di Sukabumi!

Memasuki Sukabumi kita sudah tidak perlu bingung lagi soal transportasi. Selain angkot, supirnya, dan penduduk sekitar yang ramah, Sukabumi juga sudah dimasuki ojek online sehingga kita mudah kalau mau ke mana-mana. Sebelumnya saya sudah memberikan satu tempat wajib, tempat pertama yang harus kalian kunjungi kalau ke Sukabumi, yaitu Museum Kipahare. Di sini kalian bisa belajar tentang sejarang Sukabumi yang sebenarnya.


Tujuan saya selanjutnya adalah Gunung Sunda. Tempat kedua yang menyadarkan saya kalau penduduk sekitar adalah penjaga sejati dari sebuah kekayaan daerah. Saat sampai lokasi, ada tulisan 'Save Gunung Sunda', yang ternyata di sana sedang ada eksploitasi penggalian pasir  oleh salah satu perusahaan. Dan warga menolak, entah bagaimana tindakan eksploitasi tersebut terjadi.

Gunung Sunda terletak di Kampung Jambelaer, Desa Padaasih, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Untuk sejarahnya, dijamin akan panjang sekali kalau saya tuliskan. Dan dengan berat hati saya berkata “Mungkin kalian bisa tanya Mbah Google jika ingin tahu lebih lengkap tentang sejarah gunung ini, yang katanya sudah ada sejak ribuan tahun lalu”. Karena di tulisan ini saya ingin menceritakan tentang bagaimana bapernya saya saat berkunjung, menguatkan langkah sambil tetawa, dan bersiap pamer foto kekinian di Instagram.


Sebelumnya berbahagia karena melihat pemandangan Sukabumi dari ketinggian sekitar 700 mdpl, saya diuji dulu. Beneran diuji, tapi saya suka! Ini yang sudah saya bayangkan dan berharap bisa saya lakukan tiap minggu, olahraga. Tentu kalau mau ke puncak kita harus berusaha, laksana hidup ini. Dan untuk mencapai puncak kita harus menapaki anak tangga yang cukup membuat kita berkeringat. Tapi jangan khawatir, warga di sana (dan hampir di semua tempat wisata) pintar dalam menentukan posisi berjualan. Saya lelah tepat di depan warung, atau, apakah itu sugesti? Bisa jadi.

Haruskah saya buat layanan Go-Gendong?
Satu hal yang saya suka dari perkembangan pariwisata adalah banyaknya warga sekitar yang bisa membuka lahan kerja. Salah satunya di Gunung Sunda ini. Selain warung yang menjual minuman dan makanan yang murah, ada juga kedai kopi yang kita temui saat menuju puncak Gunung Sunda. Namanya Sunda Coffee. Bangunannya sudah unik sekali, hampir semua ornamen dari bambu. Yang lebih menarik lagi, “Mantanmu ada di dalam lagi ngopi...”
Apa yang akan kalian lakukan? bakar kedai kopinya?

Kode Keras di Gunung Sunda! Seketika Baper.....

Gunung Sunda sebenarnya bukan kategori ‘gunung pendakian banget’, dari ketinggiannya saja sudah terlihat, dan kalau datang ke sini juga tak perlu menggunakan atau membawa peralatan gunung yang ‘super’, kecuali kalau kalian mau berkemah. Setau saya bisa deh. Jujur, saya lupa harga tiket masuknya, antara 5K-10K kalau tak salah. Saat itu saya terlalu excited!

Saya menarik nafas dalam-dalam dan langsung memulai langkah pertama. Fokus saya saat itu adalah ingin cepat sampai di atas, menikmati keindahan dan berfoto kemudian turun karena Sukabumi mulai panas, tapi adem anginnya tetap juara. Seketika saya gagal fokus! ‘Sebatas teman’, tulisan itu bisa saya baca dengan jelas meskipun ada aksara sunda lama di bawahnya. “Apa cobaaaa”, komentar saya sambil mengatur napas dekat warung, yang berujung jajan dulu. Haha.


Selain 'sebatas teman', ada juga tulisan ini.... dan kawan-kawannya! jadi saya mohon kalian sabar ya membaca tulisan ini...
“Mantanmu ada di dalam, lagi ngopi...”. Terlihat kembali tulisan yang ngeselin, tapi saya bodo amat, soalnya ada bangunan unik, dan spot foto yang ciamik. Sunda Coffee tadi yang saya maksud. Berbagai jenis kopi dan cemilan cafe ada di sini. Untuk orang yang sering ngopi di lindungan AC dan menikmati WiFi unlimeted sih harga yang ditawarkan termasuki murah, hehe. Setelah selesai ngopi, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Yang saya rasa perjalanan tadi itu belum setengahnya. Saya tambah kesel dan langsung melangkah dengan sangat cepat keluar kedai ketika membaca “Jangan terlalu lama untuk menjomlo”. Bhay!




Setelah melihat beberapa tulisan ngeselin di papan menuju puncak, yang tak ingin saya tuliskan semua karena sakitnya tuh di sini, saya langsung buru-buru ingin cepat sampai di atas. Dan tak terasa, saya sudah sampai, ternyata tak terlalu lama. Sudah banyak masyarakat sekitar yang berkunjung, ramai sekali, dan banyak spot foto menarik plus view hamparan sawah nan hijau khas Sukabumi yang memukau. Ditambah angin yang berhembus sejuk banget.


Kalian bisa banget deh kalau mau bawa properti foto, asal yang wajar ajah...
Tak perlu menunggu lama, saya juga langsung ambil posisi dan bersiap foto-foto. Saya suka sekali bagaimana penduduk sekitar (mungkin) membuat spot-spot foto di sini sehingga meningkatkan daya tarik. Tapi ingat ya, harus tetap hati-hati, dan bergantian untuk fotonya jika melihat sudah ada orang lain yang mengantri. Karena kebiasaan anak sekarang, kalau ada spot foto bagus langsung di kuasai, haha.


Apakah aku harus buat nikahan di Gunung Sunda?
Sambil menunggu beberapa spot foto sepi, saya kembali jajan, dan numpang duduk nyaman juga. Seblak! Akhirnya ada tulisan yang saya suka, tulisan ‘Seblak Gunsun’. Saya pesan satu porsi, kembali saya lupa harganya berapa. Kalau tak salah 6K deh. Dan minumnya itu loh yang unik, saya beli pop ice yang diblend, ternyata pakai blender manual, masnya yang muter tuasnya sampai esnya halus.



Cukup lama saya menunggu, dan saat itu masih panas juga jadi saya biarkan kalau ada yang berfoto agak lama. “Ayo lanjut”, kata teman saya. “Lah, bukannya puncak ini” sahut saya. “Bukan, masih di depan, nanti ada batu” sambil menujuk entah ke mana.

Saya pikir ini sudah puncaknya, sudah ramai dan spot fotonya cukup banyak. Ternyata puncaknya masih agak di depan, sebagai tandanya ada batu bertuliskan ‘wangsit’ dari orang yang pertama ke Gunung ini. Seingat saya sih gitu deh, dan saya juga kurang ngerti sama tulisannya. Tapi sepenglihatan saya, puncak Gunung Sunda ini cukup luas, dan ada beberapa area juga untuk berkemah, namun kita harus tetap melapor dan jangan sembarang melakukan kegiatan yang melanggar norma. Okay.


Jadi, ini kata batu penanda gitu... 

Semakin Baper Saat Pulang Dari Gunung Sunda!

Banyak orang yang bilang, “Turun gunung itu yang lebih capek, karena kaki harus menahan”, dan saya setuju banget. Bahkan kalau kalian turun dari Gunung Sunda ini, bukan hanya kaki yang menahan, tapi hati juga siap-siap nahan emosi.

Saat mengecek foto-foto yang saya ambil di perjalanan Gunung Sunda, sebenarnya saya sedikit bingung, apakah itu tulisan yang saya lihat saat naik ke puncak atau turun gunung, yang jelas tulisan-tulisan itu ngeselin abis! Bikin ketawa dan juga bikin sadar. ‘Cuma kamu yang bisa buat aku kangen setengah mati’, untuk orang seperti seperti saya mungkin kaan berkomentar, “Apa coba!”, tapi untuk orang yang sedang jatuh cinta pasti berkomentar, “Aihhhhhhh”.


Nah lo!
‘Si Mamah sudah bertanya kapan waktunya?’, nah kalau tulisan yang ini pas deh buat pasangan yang satunya udah ngebet nikah. Di antara kalian ada? Bawa deh pasangan kalian ke sini, hehe. Tulisan ‘Tinggal nungguin hari H nya ajah...’ seketika membuat saya ketawa dan saling ejek sama teman. Hari H invoice cair maksudnya, haha.  Dan untuk tulisan yang satu ini saya setuju banget, ‘Dilarang memaksakan kehendak’.



Saya juga ketemu tulisan ‘Aku diam bukan sok tahu’. Ya, bener banget! saya diam karena kecapean, dan pengen cepat-cepat sampai hotel buat meluruskan kaki, mandi dengan air panas, kemudian bersantai sambil nonton TV sekaligus makan. Untuk urusan Hotel di Sukabumi saya sarankan kalian pesan melalui PegiPegi saja, lagi banyak banget promo di sana. Pengaplikasiannya juga gampang, tinggal pilih lokasi dan tanggal, kemudian langsung keluar deretan hotel dari yang termurah hingga termahal.

Bener juga nih! Aaminnnnn....
Agak ngeselin sih, tapi seru! dan bermanfaat banget untuk kesehatan dan menjernihkan pikiran, plus foto-foto keren di sana. Intinya, Gunung Sunda bisa jadi tempat wisata pilihan kalau kalian berkunjung ke Sukabumi. Menikmati indahnya Sukabumi dari ketinggian sambil belajar dan memikirkan hubungan yang mau dibawa entah ke mana... cieeeeeee..


Pesan terakhir buat kaliaaaannn....

8 comments

  1. Jadi pengen buangeeet ke Gunung Sunda utk baca langsung semua pesan baper ituuu huahahahahaha.

    ReplyDelete
  2. Hahaha ini mah judulnya perjalanan terbaper. Bisaaa gitu ya sepanjang jalan nemu tulisan lucu gitu. Trip untuk para millenials kek gini ternyata hahaha

    ReplyDelete
  3. hehehe asik asik jozz, keceh euyy tempat wisatanya nih

    ReplyDelete
  4. ahahahah seru juga nih kode-kodenya
    Bikin baper sangat ya
    Btw yang tulisan "mantanmu di dalam lagi ngopi" rasanya gimana ya, apalagi kalau ternyata beneran ada di dalam, ngopi bareng pacar barunya hahaha

    ReplyDelete
  5. sebenarnya tanpa dibikin sama kayu warna warni, spot ini sudah cakep banget ya.

    ReplyDelete
  6. Kain yang dipake aris, kayaknya aku kenal deh hehe. Sukabumi memang seru ya

    ReplyDelete
  7. Bisa-bisa sepanjang perjalanan senyum-senyum terus melihat semua tulisannya. Baca di portingan ini aja udah bikin saya nyengir :D

    ReplyDelete
  8. hhhaha, judulnya setip sudut ada note yang bikin ngakak atau bikin inget mantan ya kk

    ReplyDelete