Saya rasa, pulau ini akan menjadi bagian dari 7 detik life recall saya nanti. Sebelum semua benar-benar berakhir. Matahari yang dengan bulat sempurnanya perlahan hadir membelah cakrawala pagi itu. Yang ternyata, tak hanya saya saja yang bahagia, penghuni laut yang sengaja saya sambangi pun turut menari di tengah lajunya jukung, berkejaran dengan riang gembira. Di waktu yang lain, ada seseorang yang sibuk dengan skenario di kepalanya, seraya berkata “ini spot foto di Bali yang wajib kita datangi sih”.
Aroma khas yang selalu membuat kangen Bali langsung menyapa. Sopan sekali masuk ke hidung Saya. Seakan berkata “Om Swastyastu, Selamat Datang di Bali”. Sederet bucket list, mulai dari tempat makan, destinasi wisata, activity, sampai spot-spot foto aesthetic dan viral pun tak mau kalah untuk diperhatikan. Rasanya sudah tak sabar untuk menikmati Pulau Dewata ini.
Pink Tempong! Entah berapa kali tempat ini disebut sejak saya dan beberapa teman saya memutuskan untuk kembali explore Bali. Dan kali ini, fokus liburan kami diperjelas, dipersempit, dan memiliki purpose-nya tersendiri, yaitu beneranhealing. Mungkin beberapa diantara kami butuh waktu yang tepat untuk membahas sesuatu, dan menengkan diri. Denpasar, Kuta, Sanur, minggir dulu karena setelah perut terisi kami langsung tancap gas menuju Desa Taro, Tegallalang.
| Enggak lupa buat mampir di Ubud pastinya... |
Ini Bali yang Saya Pikirkan!
Lebih dari 2 jam perjalanan akhirnya kami sampai di Villa lembah Damai. Penginapan pertama yang dipilih karena reviewdan foto-foto di sosmed yang langsung bikin kami jatuh hati. Dan gak bohong! Sampai di lokasi saya sudah punya banyak scenario ngonten di kepala.
| Lembah Damai Villa |
Sejuk dan sangat tenang! Suasana vila, mulai dari kamar hotel hingga kolam renang yang saya jamin akan membuat saya sedih dua hari lagi. Tanpa pikir lama, masuk kamar, ganti baju, saya langsung nyebur ke kolam. Segar, dingin, tenang, semua jadi satu. Bisa kalian bayangkan betapa nikmatnya hari itu. Definisi liburan di Bali yang saya inginkan. Kalian harus coba sesekali memilih area ini untuk menenangkan diri.
Dan saya rasa, vila ini juga cocok untuk kalian yang ingin liburan bersama keluarga karena jumlah kamarnya yang tak terlalu banyak. Bisa disewa sekaligus untuk acara-acara penting, creating moment yang dijamin pasti berkesan. Terus, kalau kalian bingung urusan dokumentasi? Bingung sewa fotografer Bali di mana? Kalian bisa coba kepoin BaliLens yang sudah punya banyak karya dan portofolio menjanjikan.
Selain mencari ketenangan di Bali, ada satu kegiatan lagi yang ingin saya lakukan sejak dulu, yaitu melihat lumba-lumba di Lovina. Dan akhirnya kesampaian. Biar jarak hotel ke meeting poin melihat lumba-lumba lebih dekat, kami memutuskan move hotel ke Munduk Menir Villa. Kurang-lebih satu jam, di pagi hari, sebelum matahari terbit, kami sampai di bibir Pantai Lovina. Perut memang kosong, tapi mata saya kenyang akan pemandangan pagi itu. Hangatnya terasa. Mungkin ini akan menajdi salah satu kenangan terindah saya di Bali.
| Munduk Menir Villas |
Bayangin, momen siluet matahari terbit dari atas perahu kecil atau jukung, ketika langit perlahan berganti warna dari ungu lembut ke jingga keemasan, siluet ujung perahu dan kita sebagai objek utama di tengah lensa kamera smartphone. Sumpah, komposisi foto yang dinamis dan bercerita.
| Terwajib! ngeliat lumba-lumba di perairan Lovina |
Keseruan pun berlanjut saat jukung melaju semakin kencang mengejar lumba-lumba yang seakan mengajak kita main. Cipratan air laut yang membuat saya semakin melek, haram hukumnya untuk berkantuk-kantuk hari itu. Pemandangan mahal ada di depan mata. Sesekali lumba-lumba itu menampakan dirinya, seperti menari di atas air laut, membuat kami bahagia, tertawa lepas sampai tak sadar meneteskan air mata. Kalau ke Bali, kalian harus coba setidaknya sekali seumur hidup kegiatan satu ini!
Tempat Foto Aesthetic di Bali? Kalau Saya sih Ini ya!
Ke Bali tapi gak ke spot foto aestheticnya? Ulang gak, pesen tiket lagi! Karena sosmed juga butuh asupan dong ya. Setelah memberikan tubuh dan pikiran ini ketenangan, ibarat nge-recharge jiwa di Bali bagian atas. Kami kembali turun, melimpir ke daerah Sanur, Denpasar, dan Uluwatu. Memang rasanya belum afdol liburan ke Bali tapi skip daerah-daerah turis tersebut.
“Kayaknya kita butuh pantai gak sih?” kalimat yang terdengar saat kami memasuki keramaian Denpasar. Dan setelah perdebatan panjang, mengingat sisa waktu liburan yang tak banyak. Kami memutuskan untuk ke Padang-Padang Beach, ya meskipun rada jauh, tapi kata teman saya yang warlok Bali, pantai ini tuh cocok kami sunsetan.
| Padang-Padang Beach |
Tapi jujur, untuk stay dan menikmati pagi di Bali, saya lebih suka dengan suasana daerah Sanur. Kata banyak orang daerah ini memang cocok untuk pecinta sunrise dan menikmati sisi Pulau Dewata yang walk-able, intinya daerah ini tuh ramah pejalan kaki, dan sepedahan. Terlebih, di sekitaran Sanur juga banyak cafe-cafe kekinian dengan spot yang instagramable. Bahkan saya berpikir, sewa fotografer Bali untuk bantu shoot or ngonten serius hingga bikin portofolio di sekitaran sini gak akan rugi sih! Bahkan worth it banget loh!
Dan kalau di Bali, kalian jangan lupa juga buat makan gorengan di pinggir pantainya ya, sepuluh ribuan aja kok, bisa menemani santai sore sambil menikmati suasana pantai yang adem. Ditambah, kalian akan merasa beruntung kalo ada yang main layang-layang, atau orang-orang bawa hewan peliharaan mereka berlarian dengan cerianya. Selamat, kalian datang ke Bali di waktu yang tepat menurut saya.
| Langsung kodein temen kalian sih buat ke Bali bareng! |
No comments