Eksplor Pangkalan Kerinci, ‘Markas’ APRIL yang Sustainable Banget!

   


   Sampailah saya di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau. Cukup teduh suasana pagi itu, belum terlalu panas, beruntunglah saya yang tak perlu bertarung hebat dengan kegerahan di badan, cukup rasa kantuk yang harus saya lawan karena mengambil penerbangan pagi untuk ke sini. Tak pakai lama, saya dan beberapa teman blogger lainnya langsung menuju lokasi kegiatan, tepatnya di Pangkalan Kerinci, karena tujuan utama kami adalah mengunjungi Pabrik Pulp & Paper milik Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) yang berlokasi di Provinsi Riau, Indonesia.


Ini adalah pertama kalinya saya ke Pekanbaru, dan cukup takjub akan design bangunan-bangunan megah yang menghiasi perjalanan saya. Ditambah detail ukirannya yang bagus, serta tetap mempertahankan ciri khas melayu yang mereka miliki. Mungkin next trip saya akan lebih banyak menghabiskan waktu di Kota Madani ini. Aamin.


Welcome to ‘Paper Town’ of Pangkalan Kerinci!

Perjalanan dari Pekanbaru ke Pangkalan Kerinci memakan waktu sekitar 1,5 jam. Waktu yang saya rasa cukup untuk mengganti waktu tidur saya karena flight pagi. Tapi faktanya saya tak memilih opsi tersebut. Langit Riau hari itu indah sekali, warna biru dengan gumpalan awan-awan besar nan putih yang berhasil membuat otak saya bernyanyi lagu Balon Udara dari Sherina. Haha. Khayalan saat itu receh sekali.


Tahun 1993, Pangkalan Kerinci yang berada di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, ini bisa dibilang hanyalah sebuah dusun dengan 1000 jiwa di dalamnya. Di tahun yang sama, Royal Golden Eagle (RGE), yang merupakan kelompok perusahaan kelas dunia dalam bidang industri manufaktur berbasis sumber daya alam mendirikan pabrik pulp dan kertas di bawah naungan unit bisnis APRIL Group, yaitu PT Riau Andalan Pulp and Paper.



Saya yakin kita semua sudah terbayang perkembangan pesat yang terjadi di Pangkalan Kerinci, karena faktanya tahun 2008 data kependudukan mencatat peningkatan hingga 50.000 jiwa. Kehadiran pabrik tersebut terbilang tak hanya memengaruhi sisi ekonomi tapi juga berimbas pada sisi kehidupan lainnya. Dan di 2018, jumlah penduduk di Pangkalan Kerinci semakin meningkat hingga 140.000 jiwa. Hingga pada akhirnya, dalam kurun waktu 6 tahun, Pangkalan Kerinci ‘naik tahta’ menjadi Ibu Kota Kabupaten Pelalawan tanpa melewati posisi kecamatan

 

Setelah pemandangan kiri-kanan yang hanya perkebunan sawit, sampai juga kami di Komplek RAPP. Pemandangan mata yang mulai berubah, sudah terlihat bangunan-bangunan yang punya kehidupan. Loh, ada di lingkungan pabrik? Yap! Bener banget. Makanya dinamakan kompleks, karena APRIL mendirikan fasilitas tempat tinggal berupa rumah hunian dan apartement, sekolah standar nasional dan internasional, fasilitas olahraga, klinik, rumah ibadah, hotel, hingga fasilitas umum lainnya untuk digunakan oleh para karyawan. Oh iya, tak hanya itu. Akses ke sini juga bisa melewati Jalan Lintas Timur, yang merupakan urat nadi kehidupan di Kerinci, serta menjadi penghubung Kerinci dengan kabupaten lainnya.


 

Pabrik pulp and paper, tentunya juga punya lahan penghasil bahan baku utama dan segala penunjangnya. Dan APRIL membuat semuanya hadir di dalam komplek ini, mulai dari hutan tanaman industri, pabrik pulp, pabrik kertas, pabrik serat rayon, dan laboratorium. Pokoknya segala hal yang menunjang operasional, sehingga dalam eksekusi bisnis, pengerjaan dan pengembangannya, karyawan APRIL tak perlu keluar dari kompleks. Namun kalau mau keluar kompleks juga boleh lho! Bahkan kalau hari libur mereka juga difasilitasi transport untuk ke Pekanbaru. Jujurly, saat mendengar cerita tersebut rasanya mau ngelamar jadi karyawan akutuh….


APRIL Group: Terkini, Terintegrasi dan Berkelanjutan 

“Sabar ya Kasur Hotel Unigraha”. Otak saya kembali berulah. Tak singkron rasanya otak dan hati ini, karena hati sudah tak sabar ingin eksplor ‘Markas’ APRIL yang satu ini. Kesempatan yang langka sih menurut saya, yang biasa hanya menggunakan produknya, kita bisa melihat langsung pembuatan kertas serta serat rayon yang ternyata tanpa sadar sering kita gunakan. 


Btw, Hotel Unigraha ini adalah hotel bintang tiga satu-satunya di Pangkalan Kerinci, dan bersifat private gitu loh, khusus untuk karyawan dan tamu perusahaan saja, jadi enggak ada deh kalau cari di Traveloka dan teman-temannya. Hehe. Hotel ini pun sudah menerapkan program ramah lingkungan dengan mengurangi penggunaan plastik pada operasionalnya, mereka menggantinya dengan sedotan kertas dan menyediakan dispenser di lorong kamar. Dan yang terpenting nih, fasilitasnya lengkap loh, ada gym, kolam renang, dan resto. Wifi kamarnya juga cepat!



Sudah bersih-bersih, nampak rapih, dan rasa lelah sedikit berkurang, kami langsung menuju ke lokasi pertama, RGE Technology Center! Seperti masuk ke sistem saraf APRIL, di sini kami diajak lebih mengenal RGE selaku induk perusahaan APRIL. Dinding-dinding bertuliskan sejarah yang seakan menyapa kami, seperti relif Candi Borobudur yang menceritakan asal mula berdirinya sebuah dinasti. 


Part awal, saya langsung jatuh cinta dengan bagaimana RGE Technology Center menyambut kami. Buku tamu digital dengan konsep kekinian, seperti Social Tree di Changi Airport, ketika kita menuliskan name and wish pada daun di layar, maka daun tersebut akan terkirim ke layar besar di hadapan kita. Setelahnya, kami baru resmi menjadi tamu dan siap menjelajah RGE. I’m so excited!!!



1973, RGE berdiri dan memulai usaha pertamanya dengan membangun pabrik plywood di Besitang, Sumatra Utara. Pekembangan kinerja yang pesat membuat mereka mengambil keputusan untuk melebarkan sayapnya dengan berekspansi ke regional Asia dan mulai memasuki bisnis di bidang pulp and paper yang berlokasi di Pangkalan Kerinci. Hingga saat ini, 

APRIL sebagai pengelola pabrik telah menjadi salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia, dan telah menjual produknya ke lebih dari 70 negara.


Pertanyaan mendasar, “Mengapa pulp dan kertas?” Bisa dikatakan, ini adalah salah satu keuntungan Indonesia sebagai negara tropis, di mana Indonesia punya sumber daya alam yang melimpah dengan iklim yang hangat serta tanah yang subur, ditambah supply air hujan yang berkecukupan. Kriteria yang sangat menguntungkan dan kondisi yang sangat ideal dalam menanam sekaligus mengembangkan pohon. Dan dalam eksekusinya, APRIL grup punya prinsip ‘haram hukumnya’ membakar lahan dalam proses pengelolaan lahan, APRIL grup menggunakan sistem panen secara mekanikal, serta memiliki komitmen 1:1 yakni untuk setiap 1 hektar lahan yang dikelola, artinya mereka akan mengelola 1 hektar lahan lainnya untuk restorasi


Mungkin ini sesi yang paling saya suka ketika berkunjung ke RGE Technology Center. Seperti melihat bagian belakang ujung Kostum ‘Ibu Pertiwi’ yang dikenakan Dea Goesti Rizkita di perhelatan Miss Grand Internasional (cari di google deh kalau kalian penasaran, hehe). Ada satu sudut di RGE Tech Center yang gelap,namun ketika lampunya nyala, mata saya langsung terpukau dengan cahaya beragam warna yang menghiasi diorama kompleks RAPP secara keseluruhan. Sayangnya di dalam RGE Tech Center ini kami dilarang mengambil foto, hiks.



Setelah mendapatkan banyak asupan bergizi tentang APRIL di RGE Technology Center, kami berlanjut ke lokasi berikutnya, yang ternyata saya suka juga. Pokoknya saya suka semua deh, apakah ini pertanda saya harus ngelamar kerja di APRIL? uhuk.


Kerinci Tissue Culture (KTC) Laboratory adalah nama lokasi kedua. Di sini kami menyaksikan bagaimana APRIL merawat dan memperbanyak bibit genetik yang memiliki kriteria dan bernilai tinggi, yang dalam setahun, di KTC Lab mampu menghasilkan 36 juta bibit eucalyptus. Buat kalian yang belum tahu, jadi di lahan tanam APRIL grup atau PT RAPP di sini ada 2 jenis, yaitu Acacia Crassicarpa dan EucalyptusKenapa kedua jenis itu? Karena spesies pepohonan merekalah yang mampu tumbuh dengan cepat di Indonesia.


Saya jadi ingat ucapan Kak Eny Chairany, Host saat di RGE Technology Center. “Iklim tropis menguntungkan, karena kita dapat merawat dan memanen pohon akasia dan ekaliptus dalam waktu 5 tahun saja. Berbanding jauh dengan negara-negara yang beriklim sub-tropis yang membutuhkan waktu sekitar 25-40 tahun untuk satu kali periode panen. Bahkan konon katanya di Rusia, membutuhkan waktu hingga 120 tahun untuk mendapatkan tinggi batang yang sama, sekitar 20-24 meter, dengan diameter sekitar 20-25 cm”. Beruntung banget deh ya tinggal di Indonesia.



Langsung nyebrang dari KTC, kami disambut dengan yang hijau-hijau. Bahkan saat kami datang, atap kebun tersebut sedang menunjukkan aksinya, buka-tutup secara otomatis sesuai dengan kondisi suhu di lokasi. Keren banget! Namanya Kebun Pembibitan Inti, yang kalau saya tak salah tangkap, ini tuh merupakan bagian dari Kerinci Central Nursery, yang di dalamnya mencangkup production housemother plant houserooting houseacclimatization houseand Open Growing Area.


Aura Mr. Gu saya tuh tiba-tiba keluar kalau melihat perkebunan luas seperti ini, haha. Tapi berhubung tak mengerti apa-apa, jadi saya hanya melihat para pekerja beraksi saja. Ada 2 jenis metode penanaman di sini, pertama penanaman dengan bibit yang langsung datang dari KTC, dan yang kedua dengan metode cuttingdari mother plant house. Untuk siklus panennya sendiri pun berbeda antar kedua spesies akasia seminggu sekali dan eucalyptus 5 hari sekali.



Central Nursery yang kami kunjungi kala itu mampu menanam 200 juta bibit setiap tahunnya. Total ada 5 central nusery yang dimiliki APRIL, yang juga dibantu dengan 8 nursery lainnya. Bibit-bibit tersebut ditanam di 5 kabupaten daerah operasional yang ada di Provinsi Riau. Dan tentu saja ini membantu dunia dalam proses penyerapan karbon dioksida serta pelepasan oksigen ke udara. Sebuah kontribusi secara langsung bagi kelestarian lingkungan dong ya….


Sebuah keberuntungan kami saat waktu penyiraman di mother plant house. Seperti gerimis yang membawa kenangan, manis sekali melihat moment itu, ditambah cahaya keemasan sore hari. Air olahan dari Sungai Kampar begitu segar, bahkan tak hanya untuk tanaman saja. Adegan film India pun terputar di otak sayaFYInih ya, Kompleks RAPP ini tuh menggunakan air olahan dari Sungai Kampar untuk operasional produksi dan keseharian yang disesuaikan dengan kebutuhan, mereka melakukan pemanfaatan sumber daya alam dengan kemajuan teknologi dalam pengolaannya. 90% air yang digunakan untuk operasional pabrik mereka pun merupakan daur ulang.




Pengelolaan di lingkungan kerja RGE pun mengedepankan pendekatan 5M, Mengurangi, Memulihkan, Menggunakan kembali, Mendaur ulang, dan Menggantikan. Tak salah bukan kalau saya menyebut pabrik di Pangkalan Kerinci ini sustainable banget! Apalagi kalian tahu tidak, kalau 85% energi listrik yang mereka gunakan berbasis biofuel terbarukan. Ada total 7 turbin pembangkit yang menghasilkan listrik sebesar 535 MW. Terus, tenaga buat turbinnya dari mana? Nah ini yang keren. Sumber tersebut berasal dari limbah produksi pabrik (lignin) yang dikelola, lignin tersebut dicairkan hingga menjadi black liquor, yang kemudian baru dibakar di recovery boiler untuk menghasilkan tenaga uap. 


Hari pertama pun selesai, kami kembali ke hotel untuk beristirahat. Di perjalanan, kami juga melihat bus listrik yang lalu-lalang, saya jadi ingat pernah mengulasnya juga di blog ini saat peluncurannya di Jakarta. Tak ternyata bertemu kembali di sini. Buat yang penasaran, kalian bisa baca ceritanya di sini ya…. And finally! Ketemu kasur…..




Cara Bikin Kertas, Viscose Rayon Hingga Benang di Markas APRIL!

Mengawali hari kedua di Pabrik KertasPaperOne, tentu kalian tahu dong merek kertas yang satu ini. Penasaran gak bagaimana proses pembuatannya? Kalau iya, bisa baca blog ini sampai habis ya…. Enggak pake part-part kok!


Pulping, adalah tahap pertama. Setelah dikirim dari wood yard milik APRIL, kayu-kayu langsung dipotong menjadi wood chips, kemudian dicacah dan menjadi pulp. Selanjutnya, pulp tersebut dimasukan kedalam Head Box untuk dicampur air dan fiber agar ‘adonan’ mulai terbentuk. Lalu memasuki proses Wire Sectionuntuk memisahkan komponen air dengan cara divacum agar bentuk dasar kertas mulai terlihat. Proses ini juga sering disebut sebagai sheet formation.




Pressing, menjadi tahap selanjutnya agar lembaran kertas benar-benar kehilangan komponen airnya. Ditekan dengan sangat keras dengan alat khusus, gilingan antar gilingan yang terus berputar. Setelahnya, baru deh dilakukan pengeringan atau drying lalu digulung. Kertas yang keluar dari proses Paper Mechine ini tak langsung berbentuk A3 atau A4 seperti yang biasa kita pakai, tapi berbentuk gulungan yang sangat berat. RAPP juga menjualnya dalam bentuk gulungan loh, dan ada juga yang dikirim ke bagian converting untuk dipotong sesuai ukuran kertas pada umumnya baru dijual.


Secara keseluruhan, proses pembuatan kertas di lingkungan PT RAPP menggunakan mesin sehingga lebih efisen, bahkan menjadi salah satu perusahaan dengan pabrik terefisien di dunia. Saat ini juga, RAPP menjadi produsen kertas terbesar no 3 di seluruh dunia yang sudah mengirim ke lebih dari 70 negara, termasuk Jepang, Eropa, dan Amerika. Bahkan di tahun 2000, PaperOne menjadi merek kertas print pertama yang memasuki pasar di Cina. 




Dari pabrik kertas, kami beralih ke Pabrik Rayon ViscoseSister company dari PT RAPP, yaitu PT Asia Pacific Rayon (APR), yang meresmikan pabrik terintegrasi pertama di Asia pada tahun 2020 lalu. Kalian tahu rayon enggak sih? Itu loh, bahan dasar tekstil. Benang untuk membuat pakaian, beberapa contoh produk yang sudah menggunakan rayon viscose tuh Uniqlo, Executive, Sarung Gajah Duduk, Bateeq, dan masih banyak lagi. Rayon viscose dianggap ramah lingkungan, berbahan alami, renewable source, mudah terurai, dan nyaman digunakan. 


Rayon sendiri merupakan jenis serat tekstil yang terbuat dari serat selulosa pohon, bentuknya seperti sutra, dan punya kemampuan menyerap serta mempertahankan warna yang baik. APR seakan membawa angin segar di dunia fashion, kehadirannya bersama produk rayon-viscose dianggap menjadi masa depan industri tekstil dan ekonomi kreatif Indonesia yang semakin peduli akan kelestarian lingkungan. Industri fashion harus bergerak dan mulai meninggalkan bahan-bahan microfiber yang sulit diurai dan menjadi permasalahan sampah di dunia. 



Kami melanjutkan perjalanan seperti serat rayon yang diolah menjadi benang. Dan sampailah kami di pabrik benangPT Asia Pacific Yarn (APY)Jadi, kalau APR kan hasil akhirnya viscose fiber, nah kalau APY ini yang sudah dijadikan benang gitu (kelanjutan viscose fiber). APY yang juga berlokasi di Pangkalan Kerinci ini menerapkan teknologi pemintalan benang termutakhir dengan kapasitas tahunan hingga 32.000 spindel cincin yang berisi produk benang yang berkualitas. 


Prosesnya, viscose fiber dari APR dipisahkan antara serat panjang dan pendeknya, karena yang diambil hanya serat panjangnya saja, lalu diluruskan, setelahnya memasuki mesin drawing sambil dipisahkan kembali menjadi 3 jenis benang yang siap didistribusikan atau dikelola lagi. Pertama benang open end dengan karakteristik tebal, benang MVS yang cukup lembut, dan benang winding yang tipis. 



 

Waw! Betapa banyaknya fungsi pohon yang dimaksimalkan oleh APRIL dan APR sejauh saya mengikuti factory tour saat itu. Melihat bahan dasar yang dikelola menjadi produk, kemudian berpotensi menjadi limbah, namun dimanfaatkan kembali menjadi sumber energi. Saya semakin suka moment pertemuan teknologi dengan alam, apalagi pemanfaatan yang didasari dengan kepedulian. 




Wait, ternyata sudah cukup panjang saya bercerita. Biar enggak bosan, mungkin sampai di sini dulu ya cerita keseruan saya di Kompleks RAPP kemarin, dan akan saya lanjutkan di postingan blog selanjutnya. Jujurly, semakin seru sih! Karena di next day saya berkesempatan untuk melihat peran APRIL untuk lingkungan sekitar, dan konsistensinya dalam menjadi roda penggerak di berbagai sektor untuk wilayah Pangkalan Kerinci, yang nyatanya tak hanya bidang ekonomi saja tapi juga bidang pariwisata. Penasaran kan pastinya…. Stay tuned ya…

2 comments

  1. seneng banget bisa belajar dari pabriknya langsung. Dari dulu aku penasaran sama dalemannya pabrik kertas. Bersih banget ini ya pabriknya

    ReplyDelete
  2. Seneng banget bisa mengerti pabrik ini

    ReplyDelete