DBS Asian Insights Conference 2022, The Youth Small Steps for Make a Change

Kontribusi. Bulan ini saya seperti dipinta untuk lebih dekat dengan kata yang satu ini. Terus mendengung seakan ingin sekali diperhatikan dan diresapi maknanya. Secara definisi, kontribusi artinya keterlibatan atau keikutsertaan yang berbentuk, baik materi maupun tindakan. Dan ‘kontribusi’ yang berkenalan dengan saya bulan ini, adalah kata yang bermetamorfosis menjadi keterlibatan yang nyata sesuai kemampuan dan bidangnya. Kalian sudah pernah berkontribusi? Untuk bumi misalnya?

 


    Menurut kalian, masih pantas nggak sih disebut ‘isu perubahan iklim’ saat dampak di sekitar kita kian nyata? Cuaca yang tak menentu, musim panas berkepanjangan, banjir, kebakaran hutan, serta gelombang panas yang lebih sering terjadi misalnya. Saya pikir, istilah krisis iklim lebih tepat, mengingat laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada 2018 menyimpulkan bahwa kenaikan suhu bumi saat ini mencapai hingga 1,5°C.

 

Meskipun 2 tahun terakhir dunia disibukan dengan permasalahan pandemi akibat Covid-19 yang mempengaruhi semua sektor, namun nyatanya krisis iklim juga menjadi tantangan besar yang tak boleh dilupakan. Apalagi ada ‘skenario terburuk’ dari Swiss Re Institute yang beranggapan, jika kenaikan temperatur global mencapai 3,2°C pada tahun 2050 maka ada potensi kehilangan Produk Domestik Bruto (GDP) dunia hingga -18%. Dengan kata lain, krisis iklim amat berdampak pada ekonomi dunia.

 

November 2021, saat Conference of the Parties ke-26 (COP26) atau Konferensi Tingkat Tinggi Pemimpin Dunia terkait krisis iklim di Glasgow, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa perubahan iklim merupakan ancaman besar bagi kemakmuran dan pembangunan global. Sampai di part ini, saya rasa Indonesia benar-benar aware akan krisis iklim, karena berdasarkan taksiran Bappenas krisis iklim bisa menyebabkan kerugian ekonomi negara-negara di Kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara menjadi wilayah paling rawan terdampak. Terus, aksi nyata Indonesia sudah sejauh mana sih?

Small Steps to a Greener Future 

DBS Asian Insights Conference 2022 dengan tema Economy & Environment: Towards a Revolutionary Future sesi ketiga berhasil memberikan perspektif baru untuk saya, ketika berhadapan dengan perbincangan krisis iklim. Semua terlibat dan saling bergantung. Pemerintah punya andil besar terkait kebijakan-kebijakan yang diciptakan dalam upaya penekanan krisis iklim sesuai hasil penting dari COP26. Melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), beserta lima kementerian lainnya, terciptalah susunan Peta Jalan Implementasi Mitigasi dan Adaptasi.



Mitigasi & Adaptasi, dua fokus utama dalam perangkat kebijakan pengendalian perubahan iklim yang dilakukan KLHK, yang juga diperkuat dengan perangkat lainnya, seperti Sistem Inventori Gas Rumah Kaca, Sistem Registrasi Nasional, Sistem Informasi Data dan Indeks Kerentanan, Sistem Informasi Safeguard, serta Program Kampung Iklim yang saat ini sudah lebih dari 3500 kampung tersebar di Indonesia. Mitigasi yang merupakan usaha penurunan emisi gas rumah kaca, dan Adaptasi dalam upaya pengembangan dan penguatan terhadap resiko negatif dari kejadian-kejadian perubahan iklim.

 

Yang saya suka dari konferensi digital dari DBS ini adalah konsep diskusi yang kemudian mempertemukan para pakar untuk saling bertukar pikiran. Yang pada akhirnya, saya berharap dan yakin akan terciptanya kolaborasi. Pada sesi ketiga yang disiarkan tanggal 22 Maret 2022 kemarin, Small Steps to a Greener Futuredipilih menjadi topik diskusi, yang turut mengundang Muhammad Yusrizki selaku Ketua Komite Tetap Energi Baru dan Terbarukan KADIN, Nafi Achmad Sentausa Head of Corporate Strategy PT TBS Energi Utama Tbk, dan Insan Syafaat yang merupakan Executive Director of Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture (PISAgro). 

 

Dari perspektif pelaku usaha, tantangan ketika ingin memulai untuk menjadi bagian dari ‘Greener Future’ ada pada pola pikir, di mana individu-individu yang terlibat harus punya misi dan visi yang sama untuk membuat bumi yang lebih baik. Kemudian selanjutnya, baru memasuki perbincangan terkait tipe energi terbarukan yang juga harus selaras dengan kesiapan ekonomi, teknologi dan SDM negara ini. 

 

Dan dalam perjalanannya/proses pengenalan greener future pun perlu adanya komunikasi yang jelas dengan kebijakan-kebijakan yang seimbang. Di sini, perlu adanya mediator antara pemerintah dan pelaku usaha. Kebijakan yang dibuat juga harus seimbang pada semua pihak. Salah satunya adalah ‘Kebijakan Hijau’ di mana pelaku usaha bisa ikut berkontribusi untuk memandu perusahaannya dalam mengenal, mengetahui, dan ikut terjun langsung berdiskusi terkait indikator greener future

 

Dalam perjalan membentuk ekosistem pengendalian iklim, kebutuhan untuk adanya kondisi pemungkin dalam bentuk kebijakan pendukung mulai dari perspektif legalitas, perspektif kepastian harga/intensif fiskal, perspektif mendorong tumbuhnya teknologi dan juga kesiapan SDM di Indonesia juga harus dipikirkan secara matang. Terlebih narasi dari kebijakan yang seharusnya bisa diformulasikan secara tepat.

“Yuks Ubah Rebahan Jadi Perubahan”

Tahun 2022 bisa dibilang momentum yang pas untuk mengeksekusi mitigasi dan adaptasi yang pemerintah kita persiapkan. Mata dunia tertuju pada Indonesia sebagai Presidensi KTT G20. Dengan tema Recover Together, Recover Stronger’ Indonesia tentunya mengajak seluruh negara untuk bangkit pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan. Youth 20 Summit Indonesia yang turut mensukseskan konferensi ini juga hadir dalam sesi terakhir DBS Asian Insight Conference 2022 dan menjadikan diskusi pada 23 Maret 2022 lalu semakin memberikan contoh nyata kalau Indonesia punya banyak The Youth Who Make a Difference.


 

Bonus demografi Indonesia membuat ide-ide kreatif dan kritis selalu hadir dalam merespon kebijakan-kebijakan pemerintah, namun tak hanya sampai di situ saja, generasi tersebut juga mampu memberikan solusi nyata untuk setiap permasalahan yang ada. “Startup itu sederhana, menyelesaikan sesuatu yang pemerintah/negara tak bisa selesaikan, kata Mentor Pak Budi Sugandi, selaku Co-Chair Y20 Indonesia yang hadir pada diskusi DBS Asian Insights Conference 2022. Dan saya setuju atas apa yang beliau katakan. Nyatanya banyak start-up yang saat ini memberikan solusi nyata dan membanggakan untuk Indonesia. 

 

Y20 Indonesia sendiri saat ini punya 4 agenda besar, diantaranya ketenagakerjaan Pemuda, Transformasi Digital, Planet yang Berkelanjutan dan Layak Huni, serta Keberagaman dan Inklusi. Salah satu bentuk eksekusinya, Y20 punya agenda hybrid untuk mengundang para pelaku start-up untuk showcase tentang penyelesaian dan kontribusi yang telah diberikan terkait perubahan. Mereka juga ingin mempromosikan hal-hal yang sifatnya bagus dari Indonesia, seperti gotong royong, bhineka tunggal ika, yang tak hanya slogan tapi sebuah pembuktian bahwa Indonesia bisa rukun dan aman, dan bisa dicontoh negara lain.

 

Untuk membuat sebuah perubahan yang berdampak pun tak mengenal adanya gender. Setidaknya itu yang saya kagumi dari kesuksesan Kathleen Gondoutomo yang merupakan CEO & Founder H!Cups, sebuah bisnis minuman yang dalam pengoprasiannya melibatkan banyak wanita. “80-90% karyawan kita adalah wanita.” Kata Kathleen, hal ini didasari karena keinginan untuk membuat para wanita di Indonesia bisa mandiri secara finansial.

 

Di part ini saya tiba-tiba berpikir, “Apakah cerita kesuksesan selalu hadir dari cerita sedih?” pasalnya H!Cups lahir dari kegelisahan founder yang melihat ketidak seimbangan hak dan kewajiban antara wanita dan laki-laki, di mana wanita yang selalu dibatasi. “Efeknya, ketika dewasa wanita tak punya bekal untuk menghadapi dunia yang dinamis ini. Wanita perlu diberikan kesempatan untuk menunjukan dan mencapai potensi maksimalnya, ini dari perkataan Kak Kathleen saat diskusi.



Cerita lain hadir dari Kak Rowland Asfales, founder Pijak Bumi, yang merupakan brand sepatu lokal yang saat ini sudah menembus pasar Jepang dan Swiss. Soal ‘ramah lingkungan’ yang selalu di-mention dalam dunia industri fashion di Indonesia, Rowland punya perspektif  bagus, Ia beranggapan kalau definisi ramah lingkungan di Indonesia masih bias, regulasi yang masih terus dalam proses dan praktek di lingkungannya hanya ‘statement semata’. 

 

Berbeda ketika berhadapan dengan industri fashion negara lain yang benar-benar concern terhadap isu lingkungan, ketika membuat produk fashion harus ada buktinya, uji lab, gimbal free, ada info material recycle. Selanjutnya dibuktikan dengan sertifikasi dan konsistensi, lalu kemudian tugas market lah yang akan menilai dengan sendirinya. Ujung tombak dalam case ini ya regulasi itu sendiri.

 

Pijak Bumi adalah bentuk kontribusi yang nyata menurut saya, di mana pengembangan bisnis yang ramah lingkungan tak hanya berorientasi pada impact ambition saja, tapi juga ada sustainability economic unit. Usaha pelestarian lingkungan yang sesuai dengan bidang yang disukai dan ditekuni para creator di dalamnya. Meskipun perlu diingat juga, kalau sebuah usaha juga harus ada indikator profit dengan strategi-strategi bisnis yang terencana.  “3P, People, Planet, dan Profit yang harus selaras,” ungkap Kak Rowland.

 

“Kenapa sih kita harus melakukan pelestarian lingkungan? Mencari solusi krisis iklim? Menyelamatkan bumi?”, M Bijaksana Junerosano, Founder & CEO Waste4Change menjawab itu semua. “Per hari ini, kecepatan kerusakan lingkungan dibandingkan solusinya, masih jauh kecepatan kerusakannya, kalimat pembuka yang langsung membuat saya mengingat kerusakan apa yang baru saja saya perbuat, dan Alhamdulillah nampaknya tak ada, hehe. Info darinya, menurut data Scientist UN, kita memasuki fase 1 dekade yang krusial untuk melakukan restorasi krusial, dan jika lewat, maka kita masuk dalam fase yang sulit untuk memulihkan bumi. Hayo, sampai di sini, siapa yang mulai merasa bersalah karena sering buang sampah sembarangan! Huft

 

“Memilah adalah titik awal untuk kita bertanggung jawab atas sampah yang kita buat, kata Mas Bijaksana. Oh iya, Buat yang belum tahu, Waste4change ini fokus banget loh pada isu sampah yang sudah pelik di Indonesia, permasalahan yang semakin terlihat secara visual. Dan pasti dari kalian banyak yang gak tau deh kalau ada peraturan memilah sampah, ada undang-undang tentang pengelolaan sampah loh ternyata. 

 

Langkah-langkah kecil yang sejatinya bisa kita aplikasikan di sekitar kita nyatanya berpengaruh banget untuk membuat perubahan. Apalagi perubahan yang punya dampak struktural, dan berkembang menjadi ekosistem. Saat ini, mungkin sudah waktunya kita wajib melakukan apa yang HARUS, bukan yang BISA kita perbuat untuk bumi

 

Informasi yang luar biasa saya dapatkan dari DBS Asian Insights Conference 2022, dan semoga bisa saya aplikasikan juga! Dan buat kalian yang ingin menyaksikan secara lengkap materi dan diskusi yang saya ambil intisarinya (menurut perspektif saya), bisa langsung deh saksikan rekaman sesi ketiga dan keempat di Channel Youtube DBS Indonesia sekarang juga. 

 

Terus, kita juga bisa nih menambah wawasan dan menemukan inspirasi melalui buku ‘Profit Untuk Misi Sosial’ yang merupakan seri buku lanjutan dari ‘Berani Jadi Wirausaha Sosial?’ secara gratis, cukup dengan download e-booknya di sini. Selamat memulai dan menginspirasi semua……

3 comments

  1. I am working on the Narrative Essay Help with the UK based writing company that provide the writing services.

    ReplyDelete
  2. To be honest, I was looking for a platform to write my dissertation proposal when I landed on your site. I do not know why I have landed on your site because here I am not able to find anything regarding buy a dissertation online UK. So, will you confirm it?

    ReplyDelete
  3. I have learned alot of things in this blog.This is really helpful and informative for me.If you are looking to buy an online Copywriting Service In Lahore at a cheap rate.You can easily make a call.I will give you the better feedback and response.

    ReplyDelete