Toraja Day 1 – Ke Patung Yesus, Kuburan Batu, Ke’te Kesu Wajib Hukumnya!

Mungkin sebaiknya saya tak perlu tahu alasannya. Rasa ingin tahu yang menjadi boomerang untuk saya. Sepanjang perjalanan hanya bisa berpikir keras, bercermin, mengingat beberapa kesalahan yang masih fresh. “Kenapa sih mereka menguburkannya di batu?”. Setelah terjawab, saya pikir saya bisa tidur tenang, tapi ternyata…..



   “Wisata Kuburan” menjadi komen yang selalu terngiang di telinga saya. Sempat hilang sih, saat tertidur pulas setelah 8 jam perjalanan Makassar – Toraja dengan DamriHari kedua rasa hari pertama di Tana TorajaKarena hari pertama nyampenya malam, jadi hanya jalan sedikit ke warung depan hotel buat makan mie goreng, hehe. Dan bisa dibilang, saya siap sekali buat explore karena tenaga sudah di-charge dengan sarapan di Warung Makan Muslim Sunan DrajatTernyata mudah banget kok nyari makanan halal di Tana Toraja dan harganya murah-murah.

 

Untuk hari pertama saya memutuskan explore wilayah Tana Toraja, dan sesuai perkiraan ‘kalian’, tentunya kuburan batu enggak boleh terlewat. Besoknya, baru saya main lebih banyak ke Toraja Utara, dan selanjutnya ke Desa Ollon. Oh iya, buat kalian yang tanya transportasi apa yang saya gunakan selama di sana, saya menyewa mobil dengan harga 1 juta per hari. Maunya sih rada murah, berharap banget nanti Damri ada rute pariwisata Toraja, hehe, aamiin.



‘Syahdu’ Banget di Patung Yesus Memberkati, Burake

Dari Warung Makan Sunan Derajat sudah terlihat patung ini. Toraja secara tak langsung ‘ngode’, membuktikan ke saya kalau dirinya punya tatanan toleransi yang asik antar agama. Atau anggaplah itu kalimat pembuka dari saya yang sudah tak sabar melihat Patung Yesus tertinggi di dunia, yang ‘katanya’ mengalahkan Patung Yesus di Rio de Jeneiro, Brazil.



Ketinggian patungnya mencapai 45 meter yang berdiri tegak di puncak Gunung Buntu Burake (1.700 mdpl). Kalau yang di Brazil, tinggi patungnya 38 meter, dan berada di atas Gunung Corcovado (710 mdpl), sehingga kita menang banyak, yeay. Mei 2015 patung ini rampung dibangun dengan tujuan untuk menarik perhatian turis datang ke Toraja. Dan tujuan itu berhasil, patung rancangan seniman asal Yogyakarta, Supriadi dan Hardo Wardoyo Suwanto, ini berhasil menaikan kunjungan hingga satu juta wisatawan. Waw! (Okay, cukup info dari wikipedianya, kali ini saya ingin share pengalaman beneran saya)

 

Sampailah saya di portal jalan menuju patung ini. Rada bingung sih sebenrnya, soalnya “kok ditutup jalannya?”, ternyata ada sedikit masalah, yang tak perlu saya cari tahu dan semoga cepat selesai. Intinya kalau mau sampai di Wisata Religi Patung Yesus Buntu Burake, sampe atas, kita harus naik ojek motor dari warga sana. Mobil hanya boleh sampai di portal tersebut.



“Murah anjir! Dan baik abangnya…..”, langsung nyerocos mulut ini sesampainya di atas. Bayar ojeknya cuma 10K (katanya harusnya itu PP, tapi itu abangnya langsung ngacir!), jadi PP 20K, menurut saya terbilang murah juga untuk ojek di Kawasan wisata, dan itu cukup jauh plus nanjak. Daripada disuruh jalan hayo????

 

Protokol kesehatannya pun sudah terlihat jelas. Ada tempat cuci tangan sebelum nanjak lagi ke tepat di bawah patung. Cukup terik, tapi hawanya adem banget dengan angin yang terus berhembus. Untuk HTMnya seingat saya tidak ada, karena turun ojek langsung cuci tangan terus masuk. Paling ya ngeluarin duit buat beli minum di warung-warung yang ada di sana. Kalau mau beli cendera mata juga mereka jual.



Terpantau sepi siang itu. Cukup puas sih buat foto-foto tanpa harus healing people di aplikasi, haha. Angin terus berhembus tanpa membawa janji-janji palsu, udara segar, dan juga langit biru yang menambah ‘syahdu’ pengalaman saya melihat Kota Makale yang merupakan Ibu Kota Tana Toraja serta landscape sekitarnya dari ketinggian. Hamparan hijau sejauh mata memandang membuat saya ingin bisa terbang




Semakin ‘Syahdu’ di Kuburan Batu Lemo!   

Next stop! Kuburan Batu Lemo. Entah, apa hanya di Toraja yang membiarkan orang-orang dengan bebas dan bahagia main ke kuburan. Yang nyatanya itu menjadi hal wajib dan daya tarik wisata Toraja. Kuburan Batu Lemo, kuburan batu tertua kedua menjadi yak tak boleh terlewatkan.

 

HTMnya 10K per orang. Setelah itu kita ‘dibebaskan’ untuk explore sendiri. Jujur, setelah proses bayar-bayar saya bingung harus jalan ke mana dulu, haha. Dari kejauhan sudah terdengar suara pahatan batu, yang membuat kaki saya melangkah hingga bertemu patung kerbau dan jalan menurun, kemudian disambut dengan sawah hijau yang bagusssss banget. Semakin syahdu, padahal lagi main ke makam. 



Dari tempat beli tiket tadi, juga sudah terlihat bukit besar (ya batu sih bisa dibilangnya juga). Lemo, yang artinya jeruk. Sejak abad ke-16 batu besar ini sudah dijadikan kuburan oleh para leluhur, dan akhirnya dinamakan lemo karena makam-makam tersebut seperti pori-pori pada buah jeruk. Btw, kalian tahu mengapa mereka menguburkannya di batu?



Suara derik serangga semakin terdengar jelas ketika saya melintasi jalan pinggir sawah. Seperti bersahutan dengan bunyi pahatan batu. Atau kalau mau lebih ‘horor’ lagi, ibarat suara gendering penyambutan. Kalau yang ini buka imajinasi, Tau-Tau langsung menyambut saya, patung kayu yang merupakan simbolisasi dari mereka yang sudah meninggal. Dan kalau mau punya Tau-Tau mereka harus melakukan upacara adat yang Namanya Rambu Solo (upacara untuk kematian), dan biayanya enggak sedikit loh…. Ya, minimal 24 kerbau! 1 kerbau aja harganya bisa puluhan hingga ratusan jutaaaa, njiiiir!




Saya penasaran, mengapa mereka menyimpan mayat tersebut di batu? Untuk membuat otak saya berkerja, jawaban pertama yang saya dapatkan adalah soal geografis dari Toraja yang dikelilingi bukit. Hanya berapa persen lahan yang bisa dijadikan sawah, sehingga terciptalah kuburan di batu. Jawaban selanjutnya, bersangkutan dengan hati, Para leluhur mereka percaya kalau tanah adalah elemen yang suci, dan manusia adalah yang penuh dosa, sehingga mereka tak ingin mengotori elemn tersebut. Saat mendengar jawaban kedua, saya ingin segera berwudhu rasanya.




Harus Balik Lagi Ke Londa!

Masih main ke pemakaman. Kali ini bisa dibilang lebih ‘horor’. Seharusnya. Londa, adalah pemakaman batu selanjutnya yang saya datangi. HTMnya 15K per orang. Jalan sedikit, saya langsung sampai di gerbang kuburannya. Ada tulisannya, LONDA dengan warna merah dan kepala kerbau di atasnya. 

 

Saya pikir ada apa, terlihat beberapa anak menenteng lampu petromak jadul, ternyata itu disewakan karena di Londa kita bisa masuk ke dalam goa tempat jenazah disimpan. Harga sewanya (saat saya ditawarkan) 50K, dan juga katanya ada biaya lagi untuk guidenya. Sayangnya hari itu saya tak menyewa jasa mereka karena langit yang mulai gelap (sebelumnya sudah hujan gitu). Jadi saya Cuma sampai depan goa nya saja. Syedih! Dan bikin wajib balik lagi…



Seperti yang sebelumnya, sampai langsung disambut sama Tau-Tau, tapi yang ini lebih real, ‘seperti’ manusia banget. Detail patungnya lebih terlihat dengan pakaian dan aksesorisnya. Selain goa, di Londa kita nakal melihat tengkorak dan juga peti-peti mayat ditaruh (seperti ditaruh begitu saja, tapi pastinya tidak) dan juga digantung. Oh iya, katanya sih semakin tinggi posisi petinya, berarti ia cukup terpandang statusnya di masyarakat saat masih hidup.




Pas mau keluar dari Londa, ternyata kesampaian juga melihat kerbau albino yang harganya ratusan juta. Katanya sih, saat ini kalau lebih dari 1 M kena pajak saat penjualannya. Saking hebohnya pas saya samperin, kerbau tersebut kayak bengong gitu, mungkin kalau bisa ngomong ia akan berucap “Apaan sih human, norak”, haha.



Ke’te Kesu! Juga Mau balik Lagi Ke Sini…..

Katanya sih, kalau ke Tana Toraja ‘enaknya’ di bulan 7 dan 8 karena banyak acara adat dan juga musim panen. Terus, bisa juga datang di Bulan Desember jika ingin melihat beberapa festivalnya. 

 

Ke’te Kesu adalah kompleks rumah adat tertua di Toraja. Untuk biaya masuknya, kita harus membayar 15K per orang. Yang menjadi daya Tarik utama tentunya adalah Tongkonan, rumah adat Toraja, yang nyatanya punya filosofi menarik. Pertama, kalian akan melihat tanduk kerbau berjejer di depan rumah, menandakan sudah berapa banyak Rambu Solo (upacara kematian) yang mereka adakan. Makin banyak, makin tajir tentunya.


 

Kedua, Tongkonan selalu menghadap ke utara, di mana mereka percaya kalau utara adalah simbol kebaikan. Tongkonan juga dulunya tak dipaku, dan yang membangun tak sembarang. Setelah dibangun pun, harus dibuatkan upacara adat, Namanya Rambu Tuka (upacara adat sebagai rasa syukur, biasanya diperesmian rumah baru dan pernikahan).

 

Di depan Tongkonan, ada bangunan yang mirip namun ukurannya lebih kecil yang dinamakan Alang, tempat menaruh padi, lumbung padi. kalian juga pasti akan melihat pahatan ayam dan juga matahari di muka depannya, karena mereka menyakini kalau ayam adalah makhluk yang paling jujur, pagi berkokok membangunkan dan malamnya istirahat. Tongkonan dan Alang tak bisa dipisahkan. Tongkonan bertindak seperti ibu, rumah tempat tinggal. Dan Alang sebagai ayah yang menyediakan makanan.  

 



Dannnn, saya rasa harus banget balik lagi ke Ke’te Kesu! Krena saat itu mulai hujan, cukup deras, sehingga memaksa saya buat stop explorenya, padahal di bagian belakang Ke’te Kesu juga ada kuburan (lagi lagi dan lagi….) yang katanya juga punya cerita menarik. Huft

 

Day one berakhir, saya kembali ke hotel karena ada kerjaan dadakan! Dan sampai jumpai di hari kedua, tentang Negeri di atas awan dan juga kerbau-kerbau mahalllll…..

No comments