Museum Benteng Heritage - Tangerang di Masa Lalu

4:35:00 PM

Awalnya akan terkesan sia-sia, buat apa masuk museum yang harganya 25 ribu tapi tak boleh foto-foto, “Apa bukti otentiknya” kalau kata kids zaman now. Tapi Museum Warisan Peranakan Tionghoa Tangerang yang satu ini justru membuka mata dan pikiran saya tentang ‘HTM’ sebuah museum old fashion, bahkan peraturan tak boleh mengambil foto di dalam museum mengingatkan saya akan study tour SD dulu, no phone dan saya fokus mendengarkan sang pemandu. Museum Benteng Heritage sukses membawa saya bernostalgia dengan Tangerang tempo dulu, mungkin hanya sedikit yang saya ingat, tapi ini menarik dan bisa menjadi satu alasan kenapa kalian harus explore kota benteng ini. Cek this out!



   Di balik keramaian Pasar Lama Tangerang yang semakin siang semakin meredup, saya masih sibuk memilih pijakan conblock yang kadang menjebak menuju Klenteng Boen Tek Bio, salah satu klenteng tertua di Tangerang yang menjadi satu-satunya objek wisata yang saya tahu ketika memutuskan untuk menjelajah kota Tangerang beberapa waktu lalu. Tentunya ada banyak fakta dan informasi menarik akan klenteng di tanah air, termasuk Boen Tek Bio, yang pasti sudah banyak di google, hehe. Tapi bukan berarti saya malas untuk datang ke tempat ini, human interest tetap menjadi satu hal yang ‘berharga’ untuk dilewatkan.

Siang itu sudah terlihat beberapa orang yang sedang berdoa di depan Thian Shin Lou atau tempat menancapkan hio, yang paling menarik perhatian saya adalah pelepasan burung, entah burung apa dan maksudnya apa, tapi saya merasakan aura kebebasan kala itu. Pengurus klenteng sangatlah ramah, saya melihat senyum yang sering kali terlukis di wajah mereka tanpa takut terganggu, dan saya pun sadar diri untuk tak terlalu jauh melihat ke dalam klenteng, kita harus tahu batasan ‘menjelajah’ sebuah tempat itu seperti apa, iyakan smart traveler?


Beberapa kegiatan yang bisa kita lihat di Klenteng Boen Tek Bio
Ketika keluar Klenteng Boen Tek Bio saya baru tersadar kalau ada sepasang Singa Batu atau Cioh Sai yang menyapa saya ketika masuk, karena sepasang otomatis itu jantan dan betina dong pastinya, meskipun saya belum tahu pasti kebenarannya. Tak ingin mengambil pusing, saya menempatkan diri sebagai penikmat perjalanan saja siang itu, hingga akhirnya lapar dan memutuskan untuk mencari kuliner khas kota Tangerang. Perjalanan keluar pasar justru mempertemukan saya dan blogger lainnya pada satu bangunan unik, bisa dibilang kami beruntung, dan explore Tangerang semakin seru untuk dilanjutkan. Seperti tulisan ini.

 
Yuk Bernostalgia dengan Tangerang Lama!

Bagi saya muka bangunan ini tak terlalu mencolok perhatian, seperti rumah tinggal biasanya, karena faktanya Museum Benteng Heritage ini memang rumah tinggal dulunya. Ada tiga rumah yang diwariskan, ‘satu anak satu rumah’ namun dua diantaranya dibeli pada 2009 lalu, yaitu rumah yang berada di tengah dan kanan ketika kita menghadap ke arah luar, sedangkan yang kiri hingga saat ini masih ditempati pemilik aslinya, hanya dibatasi dengan tembok yang masih asli yang berasal dari abad ke-19.

Museum Peranakan Tionghoa pertama di Indonesia, begitulah julukan untuk Benteng Heritage. Jika ingin memasuki museum ini, kita harus mengeluarkan uang 25 ribu (saya datang saat Sabtu), Saya pikir sang pemilik museum ini sangat pintar menjaga koleksinya, HTM yang mahal membuat tak sembarang orang ingin masuk museum ini. Museum ini juga sangat menjaga keaslian bangunannya, selain tembok asli yang dipertahankan, ubin/lantai dengan tebal sekitar 12,5 cm pun dibawa langsung dari Tiongkok, beberapa sisi tembok juga tidak rata karena hanya direstorasi dengan batu bata merah, pasir dan kapur saja, persisi seperti rumah tiongkok zaman dulu.


Semakin takjub ketika saya tahu kalau tiang penyangga/pondasi Museum Benteng Heritage terbuat dari kayu shi, yang semakin lama justru semakin kuat, pintu dan jendelanya pun masih dengan partisi yang asli dari abad ke-17. Pertama kali memasuki museum ini kita akan dikumpulkan terlebih dahulu di ruang depan, tepat di depan tempat memberli karcis masuk, kita akan dijelaskan terlebih dahulu peraturan yang berlaku di museum tersebut, diantaranya tak boleh mengambil foto dan merekam, serta harus terus dekat dengan sang pemandu. Ma Martin nama pemandu saya saat itu.

“Ada 4 lukisan yang diambil dari foto hitam putih, kenapa dilukis? Agar ketika diperbesar tak pecah dan bisa berwarna” ujar Mas Martin memperkenalkan empat maestro pembuka tour Museum Benteng Heritage. Seketika saya merasa masuk ke dalam salah satu lukisan yang berada tepat di belakang saya, situasi pasar lama di tahun 1950, “kalau keluar museum ke arah kanan ada pertigaan yang mengarah ke klenteng” Mas Martin mendeskripsikan. Lukisan di museum ini seakan mengajak saya bernostalgia dengan Tangerang zaman dahulu, kalau tadi ke arah kana sekarang ke arah kiri, jalana yang masih terlihat rapih karena pasar masih di pinggir belum tumpah ke jalan, masih tertib.

Lukisan tahun 1940an juga menjadi cerita kenangan untuk kota benteng ini, tentang Stasiun Tangerang yang sayangnya saat ini sudah tak ada lagi, sudah menjadi lahan parkir. Dulu, stasiun itu digunakan sebagai gudang gula dan garam, hasil bumi Tangerang yang siap kirim ke Batavia. Kalian tahu tidak, ternyata dulu itu kalau suatu daerah tak memiliki hasil bumi, maka tak akan dibuatkan stasiun/perlintasan kereta, beruntungnya tanggerang punya garam dan gula, meskipun saya sendiri kurang begitu tahu, yang saya tahu dari perjalanan itu hanyalah kecap merek SH yang menjadi produksi khas Tangerang.

Bisa abaikan kami, tapi perhatikan lukisan yang ada di belakang kami!
Akhirnya kami melangkah masuk museum ini, saya cukup kaget ketika ada orang di dalamnya sedang membersihkan piring, untuk jamuan makan besar besok katanya. Ternyata museum ini juga menyediakan tour dengan paket makan, waw. Saya masih merasa museum ini seperti rumah tinggal banget, tata letak perabotannyalah yang memaksa saya berpikir demikian, padahal saya sudah takjud di awal tadi. Jangan lakukan kesalahan seperti yang saya lakukan, jika tak ada Mas Martin yang menjelaskan mungkin saya akan menganggap gerbang kayu yang berbentuk lingkaran yang tepat berada di lorong masuk tadi hanyalah gerbang biasa, namanya gerbang bulan yang terbuat dari kayu berumur lebih dari 200 tahun, motifnya sangatlah istimewa yaitu perpaduan Indonesia dan Tionghoa yang digambarkan dengan motif megamendung dan burung hong. Dan penyesalan saya berlanjut ketika Mas Martin berkata “Boleh foto-foto jika datang pas ulang tahun, kemarin tanggal 11 bulan 11”.

Kami masih duduk di ruang tengah di hadapan gerbang bulan, rasanya tak ingin beranjak, suasananya cozy banget, nyaman meskipun banyak barang. Ada lampion besar menggantung yang membuat saya ingin bermain ke lantai atas, kepo ada apa di sana, dan ternyata memang tour ini mewajibkan kami ke lantai 2, melewati tangga yang sudut kemiringannya 45 derajat. Museum Benteng Heritage memiliki 3 lantai, namun lantai ketiga hanyalah gudang sedari dulu, jadi waktu kami lebih banyak di lantai 2. Banyak banget barangnya! Kira-kira seperti itulah komen pertama saya. Pertemuan kami dengan museum ini seperti tepat, Mas Martin menjelaskan kepada kami tentang kecap SH, lagi, padahal sebelumnya kami sempat berkunjung ke pabriknya.

Tangerang terkenal dengan kecap bentengnya, sebenarnya ada 2 merek kecap benteng, Teng Giok Seng dan SH. Keduanya terbilang sangat fenomenal dan khas banget dari Tangerang. Saya bingung ini bagus atau buruk, tapi jika melihat sisi bisnis Teng Giok Seng yang sudah berdiri sejak tahun 1882 nampak melakukan ‘kesalahan’ dalam hal pemasarannya yang terlalu sempit dan masih menggunakan botol kaca sehingga kurang populer dibandingkan dengan kecap SH yang pemasarannya lebih luas dan sudah hadir dengan botol plastik kecil dan kemasan isi ulang. Namun keduanya tetap menggunakan kedelai hitam yang difermentasi tanpa bahan pengawet. Kecap benteng pun terkenal dengan slogannya “Selalu nomor satu”, tak pernah ada dua, dengan tingkatan 1a artinya manis, 1b sedang, dan 1c asin. Tapi jika kalian ingin mencicipi kecap asin SH, maka kalian harus bersabar karena SH hanya memproduksi kecap asin setahun sekali, hanya saat imlek.


Nih kecap SH yaaa
Oh iya, kalian tahu tidak kalau Tionghoa juga ada ‘Palang Pintu’ loh, di Museum Benteng Heritage ini kalian bisa lihat dan merasakannya sendiri, pintu ‘pintar’ asli abad ke 17 yang mudah untuk ditutup tapi sulit sekali untuk dibuka, Mas Martin mengajak kami memecahkan teka-teki pintu tersebut dan bisa dikatakan saya pribadi menyerah. Palang Pintu Tionghoa bukan seperti yang kita kenal, ini benerang palang yang ada di bagian bawah pintu dan berfungsi sebagai penyelamat dan pemberi hormat kepada sang tuan rumah. Jadi gini, kalian tahukan kalau baju orang Tionghoa dulu panjang-panjang? Nah, ketika memasuki rumah/bertamu pasti mereka menggulung baju sebelum melintas palang pintu tersebut, saat itu juga mereka menunduk dan secara tak langsung memberikan penghormatan kepada yang punya rumah. Kemudian ketika ke luar, mereka melakukan hal yang sama sekaligus untuk berhati-hati dalam melangkah hingga ketujuan. Filosofi yang menarik dijelaskan oleh Mas Martin.

Museum ini juga mempertemukan saya dengan Patung Dewa Pendidikan yang bisa menjawab pertanyaan saya tentang pendidikan, saya sulit menjelaskan karakteristik patung ini, pokoknya ketika kalian berkunjung pasti ketemu. Juga terdapat banyak timbangan yang menjelaskan bahwa daerah ini dulunya pasar, bahkan timbangan narkoba pun ada loh.... Selain itu juga ada koleksi perangko, koin dari tahun ke tahun, hingga buku cerita terjemahan yang tertata rapih di dalam rak kaca. Cerita yang menarik kembali dituturkan Mas Martin saat kami semua berada tepat dihadapan lukisan Laksamana Cheng ho, asal mula nama ‘Cina Benteng’ yang ternyata ‘cukup menyedihkan’ (mungkin akan saya tuliskan terpisah, karena cerita ini sudah terlalu panjang, hiks).

Beranjak dari lukisan, akhirnya saya melihat lampion yang menggantung tadi lebih jelas dan lebih dekat, dikelilingi kayu lusuh yang memang tak dicat ulang agar keasliannya tetap terjaga. Tahun 2009 ketika gedung ini dibeli kemudian dibersihkan, barulah Museum Benteng Heritage ini semakin tak ternilai harganya, tepat di atas kepala saya, di atas kami duduk tadi, ternyata ada ukiran dari batu yang tersambung,  tak terpisah, sebuah ukiran yang menceritakan Dewa Kwan Kong yang harus melewati 5 gerbang/negara dengan tantangan dari Chaw-chaw musuhnya. Setia, jujur dan pemberani adalah sifat dari Dewa Kwan Kong yang bisa kita temua hanya di kantor polisi, Kejaksaan, dan Rumah Komunitas/Organisasi (saat ini Museum Benteng Heritage Peranakan Tionghoa).

Eh, kalian bisa loh liat keseruan perjalanan saya di Tangerang pada vlog ini....

Di lantai dua ini juga saya seakan diajak bermain, ada sebuah meja dengan sekumpulan permainan Tionghoa, permainan judi deh kayaknya, uniknya meja tersebut lengkap sekali dengan ruang-ruang rahasia untuk menaruh uang dan minum, para pemain nampak dituntut fokus dalam berjudi sehingga fasilitas meja ini terbilang lengkap di zamannya. Setelah bermain, Benteng Heritage juga mengajak kami untuk pesta tiga hari tiga malam, menikmati suasana pernikahan budaya Tionghoa dulu, mulai dari proses potong ayam,  bumbu masak, hingga hari pernikahan dengan keunikan tersendiri, jadi dulu itu setiap pengantin wanita pasti diatas jidatnya ada huruf V yang disertai mantra, V menghadap keatas untuk yang masih perawan, dan V menghadap ke bawah untuk yang sudah tak perawan, namun banyak yang menggunakan lem katanya, ups.

Hari semakin sore, dan sepertinya lorong waktu yang kami lewati akan segera berakhir, tapi sebelum hal itu terjadi saya justru mendapatkan jawaban atas pertanyaan di Klenteng tadi, kalian taukan tadi saya sempat bertanya bagaimana membedakan dua singa yang ada di Klenteng Boeng Tek Bio? Jadi kita lihat saja apa yang mereka injak, jika bola dunia maka itu yang jantan, maksudnya adalah pria harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan, sedangkan betina pasti meninjak anaknya yang artinya ia bertugas menjaga anak. Kodrat zaman dahulu katanya, kalau sekarang sih..... Yuadah pokonya sampai jumpa di cerita explore Tangerang selanjutnya!

Info lanjut:
Museum Benteng Heritage
Jalan Cilame No. 20, Pasar Lama
Tangerang 15118
email : info@bentengheritage.com

You Might Also Like

9 comments

  1. Menarik sekali perjalanannya ke Tangerang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong, kan jalannya sama blogger-blogger hitzzzz wkwkwkw

      Delete
  2. Apalagi pas jelasin tentang sepatu yg dipakai wanita yg jari2nya harus diikat. Serem bangeeeettttt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu rencana mau aku tulis, tapi aku ragu, huhuhu... serem...

      Delete
  3. Eikw yang deket banget sama Tanggerang tapi belum pernah ketempat ini hahaha kalah sama orang #Jakarta

    ReplyDelete
  4. Aku paling suka nonton Unyil Jalan-jalan, apalagi kalau sudah ngunjungin pabrik gitu, jadi tahu proses pembuatan sesuatu. Nah, aku belom pernah liat edisi pembuatan kecap. Menarik ya saat produk lokal masih bertahan :)

    Keinget juga ada satu tayangan yang memperlihatkan para kolektor (botol) kecap. Kece bener!

    Cakep foto-fotonya mas.

    ReplyDelete
  5. Di Jogja ada juga museum yang tidak diperbolehkan untuk memotret. Kalau masuk lebih suka bawa buku catatan untuk mencatat apa yang ada di dalam

    ReplyDelete
  6. nah kalau cerita klentengnya aku suka...

    ReplyDelete