HER.

7:56:00 PM

Dia seperti mengajak saya berbincang, padahal saya saksi dari pembunuhan yang ia lakukan. Mimik mukanya bukan sekedar pemuas iblis yang merasukinya, sorot matanya tajam seakan bertanya “salah saya?”, insting dan intuisinya sulit saya bedakan meskipun pada akhirnya saya hanya tahu satu hal pasti, dia wanita tangguh. Lewat empat babak, Marlina sukses membuat saya menjadi bayangannya. Yang ia lakukan lebih dari sekedar yang ia bisa, dengan jelas ia mampu membedakan mana kodrat dan gender yang saat ini sering menjadi buah bibir di kota-kota besar. Tapi Marlina, bersuara lantang jauh dari timur Indonesia, Sumba, untuk sebuah kesetaraan.



   Bicara dengan Ibu Ratna Susianawati, SH.MH yang merupakan Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Infrastruktur & Lingkungan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) ibarat berhadapan dengan sosok wanita yang menghembuskan angin ribut dari kepalanya. Bicaranya cepat dan merusak akal sehat saya siang itu. Tak banyak yang saya tahu tentang dirinya, yang jelas ia sangat mengerti apa yang diucapkannya, “Kodrat dan Gender itu berbeda!” tegasnya. Saya tahu apa? Bisa dibilang saya tak memikirkan hal itu, dan itu kesalahannya.

Menjadi minoritas di acara Netizen Gathering 2017 yang diadakan oleh Serempak, Indonesia Woman Information Technology Awarness (IWITA) dan KPP-PA bisa dibilang keuntungan tersendiri untuk saya pribadi, cara pandang saya jadi berbeda ketika sebuah kasus dibedah, yang awalnya ‘penonton’ menjadi ‘pemikir’, bahkan tema ‘Menciptakan Konten Kreatif Berbasis Kesetaraan Gender, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak’ menjadi asik untuk diikuti seorang pria.

Sebelum melanjutkan berbagai pandangan, mari kita samakan persepsi terlebih dahulu tentang kodrat dan gender! Kalian tau apa bedanya? Menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui adalah kodrat, artinya sesuatu yang pria gak bisa melakukannya, a gift, hanya wanita yang punya. Sedangkan gender, adalah sebuah konstruksi sosial yang bahkan memiliki arti sangat luas tergantung dari sudut mana kita melihat hal itu, yang jelas gender adalah sebuah perlakuan, kondisi yang terbungkus oleh norma.



Tetapi ada persoalan besar tentang gender, adalah bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang ‘gender’ itu sendiri. Gender bukan hanya tentang perempuan yang meminta kesetaraan melulu, bicara kesetaraan gender harus melihat terminologinya juga, dan acara ini membuka mata saya untuk tahu kalau gender bukan hanya laki-laku dan perempuan saja, juga bagian dari berbagi peran hingga relasi antara laki-laki dan perempuan, juga kelompok anak, disabilitas hingga lansia, bisa dibilang seperti ‘pemain’ di dunia gitu.  

Di balik sebuah konten, pasti ada sang pembuatnya, tak peduli wanita atau pria tetap saja ketika pembaca suka maka konten tersebut akan nikmat untuk dibaca. Tapi sebuah konten, tentu memiliki sudt pandang tersendiri, ini yang sebenarnya harus diperhatikan. Mari ambil contoh yang sedikit ‘hot’, kalian tahu dong kasus labrak-labrakan artis (yang saya gak tau dia karyanya yang mana) JD ‘dinilai’ merebut suami orang? Nah, secara tak sadar semua pemberitaan hanyalah tentang si JD nya saja, padahal ketika terjadi ‘perebutan’ tersebut banyak pemainnya, termasuk sang pria. Mulai dari sebuah konten berita saja jelas terlihat kesetaraan gender tak digubris sama sekali.

Sebenarnya kasus tersebut tak masuk dalam job KPP-PA, urusan rumah tangga yang jadi konsumsi umum. Sebagai salah satu Kementrian dengan mandat yang spesifik, bisa dibilang KPP-PA adalah kementrian tertua, paling lama dan eksis hampir 39 tahun, meskipun namanya sering berubah-ubah namun tugas dan fungsinya sama. “Kalau bicara harus sesuai data dan fakta, itu adalah kekuatan media komunikasi KPP-PA” kata Ibu Ratna, oleh karena itu mereka sering melakukan survei dan terjun langsung ke lapangan, dan tentu yang diurusi adalah Pendidikan, kesehatan dan ekonomi yang lebih condong ke wanita dan anak, sesuai namanya. Konten yang beredar saat ini hanyalah isu yang disukai bukan yang bermanfaat, padahal kekerasan wanita dan anak sangat banyak terjadi di Indonesia, jadi berita tentang kekerasan bermanfaat? Jelas, menjadi sebuah pembelajaran dan pengambilan tindakan yang seharusnya dilakukan.

Kalian tahu film Posesif? Salah satu film yang saya anggap sebagai film dengan cerita yang berani mengangkat sebuah fakta, bahkan kasus kekerasan terhadap perempuan sudah dimulai sejak pacaran. Saya rasa film posesif berhasil membuat fungsi film berada kembali di jalurnya, sosok wanita dalam film ini sadar bahwa dirinya bisa merubah sifat kekasihnya yang kasar kepadanya, hanya dia yang bisa katanya. Salah? Mungkin! Wanita punya pemikirannya sendiri, tapi yang salah adalah ketika kita tak mengetahui hal tersebut nyata dan ada di sekitar kita, bahkan tak peduli.


Ratna Susianawati, SH.MH
Kita yang tahu bisa apa? KPP-PA saat ini sudah memiliki unit pengaduan masyarakat untuk tindak kekerasan yang kita ketahui di nomor 082125751234. Ini adalah sebuah program nyata dari kementrian untuk membuktikan rasa empati kita masih ada, dan tumbuh di masa seperti sekarang. Kesetaraan gender yang disuarakan wanita saat ini bukanlah persamaan kekuatan ataupun kedudukan dengan laki-laki, tapi persamaan sebuah kesempatan untuk melangkah sesuai norma. Dan bagi pemerintah, kesetaraan gender tidak bisa dikerjakan oleh satu kementrian saja, perlu adanya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Dengan hadirnya unit pengaduan tadi, KPP-PA semakin yakin melalui 3 Ends visinya akan tercapai, yang pertama mereka ingin meminimalisir kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, kedua menurunkan perdagangan manusia, dan ketiga dari segi ekonomi.

 
Ayo Menjadi Netizen Cerdas!

Bisa dibilang suasana seketika berubah menjadi dingin, Pak Maman Suherman berhasil meredam angin ribut di awal tadi, “Kita harus bisa memastikan anak laki-laki dan perempuan harus sudah memperoleh hak yang sama sejak dalam kandungan” sebuah ucapan yang ia ambil dari tweet Ibu Sri Mulyani, “Sebuah perspekif gender yang dahsyat sekali menurut saya” ujarnya.

Menurut catatan komnas perempuan tahun 2016, Di Indonesia masih ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan,  245.548 kasus diantaranya kekerasan terhadap istri berujung perceraian, KDRT. 5.784 kekerasan terhadap istri, dan kekerasan dalam pacaran sebanyak 2.171, seperti kasus dalam film Posesif. Hal ini justru membuktikan bahwa kekerasan terjadi di ruang private person, dan mereka yang ada di dalamnya ‘korban dadakan’ ketika berita mereka masuk di dunia maya. Dan kembali, yang terekspose pastinya wanita, lagi. Siapa yang salah? Semua yang terlibat dan tak mau bersuara!

Sebenarnya ada pilihan untuk masyarakat yang disebut ‘Netizen’. Yaitu menjadi cerdas dengan mengingat Filter 3B, Bener gak kasus itu? Baik gak jika disebarkan? Bermanfaat gak untuk disebarkan? Jika tidak lolos, ya jangan disebarkan!

Kenyataan?

Entah berapa helai tisu yang ia habiskan untuk menyapu air matanya ketika mendengarkan keluhan para korban, bercampur amarah pastinya hati Ibu Ina Rachman yang seorang Aktifis Perempuan ketika mereka para korban justru tak ingin kasusnya itu dijadikan konsumsi publik. Karena mereka tahu dunia akan semakin berakhir ketika publik mengetahuinya.


Ina Rachman, SH.MH
Jika bisa memilih, saya tak ingin mendengarkan cerita selanjutnya. Cerita wanita yang antri untuk bertemu dengan sang idola, dan bangga ketika mendapatkan kesempatan yang lebih lama untuk berada di kamar bersama sang idola. “Jangan mendewakan idola” ujar Ibu Rachman. Sosoknya menjadi sangat protektif terhadap anaknya sendiri, anak adalah anugerah dan beliau sadar akan hal itu. Contohnya seperti ini, coba kalian search kata ‘Anak SMA’ di google, dan jangan kaget ketika kalian melihat apa yang ada di page one mba google. Miris. Tapi seperti itulah adanya, untuk anak tentu harus kembali kepada orang tua, lebih tegas dalam memberikan kebebasan apalagi yang berkaitan dengan teknologi.


Martha Simanjuntak, SE, MM - Founder IWITA saat memberikan informasi tentang perkembangan Serempak hingga saat ini
So, kita kembali pada kasus perempuan. Bisa dibilang jika ada kasus dengan korbannya perempuan, yang membully pasti kebayakan perempuan juga, lihat aja yang komen di IG akun gosip. Dan itu sebenarnya yang ingin disampaikan, perempuan punya kekuatan yang dahsyat untuk memperbaiki dan memperburuk sebuah konten, dan melalui tulisan tentang acara ini, Serempak, IWITA dan KPP-PA ingin mengajak masyarakat untuk mengurangi hujatan terhadap perempuan. Pikirkan kembali ketika kita mau komen dan share sebuah berita. 

You Might Also Like

6 comments

  1. Kamu nulis apa sih Ris?

    Baru kali ini aku nyimak banget. Kubaca ulang. Tulisanmu bagus ternyaya. ������... Gak heran banyak panggilan syow sana sini...

    Btw aku kan blm nonton posesif. Jd g bs bayangin. Jelasin napa. Emangnye pembacamu aemua pada nonton posesif?

    #malah marah marah. Wakakaka

    ReplyDelete
  2. Aku menyimak tulisanmu, Bro
    Menarik.

    Judulnya "Her" mengingatkanku pada film Her yang dibintangi Scarlet Johansson.. kau sudah nonton? :) #maafOOT

    ReplyDelete
  3. Perempuan. Sepertinya Kamu mulai lelah menghadapi tingkah polah perempuan wkwkwk. Tp bener bgt, kekuatan perempuan cukup dahsyat dan mampu mengobrak ngabrik dunia maya.

    ReplyDelete