‘Irama’ Asian Para Games 2018 yang Harus Kita Pahami!

3:07:00 PM

Musik dan telinga, entah bagaimana hati bisa merasakan jika keduanya tak bertemu. Apa salahnya Menggila dengan musik? Saya bahkan gak peduli lingkungan sekitar ketika mendengarkan musik yang saya suka. Atau mungkin itu cara saya untuk gak peduli pandangan orang tentang saya. Seketika saya tuli akan bisik mereka yang sok tahu, meskipun sudah sewajarnya manusia demikian. Yang harus disadari kita semua punya pilihan, bahagia kita sendiri yang buat, bersyukur yang kata orang membuat bahagia pun pilihan. Namun jangan samakan dengan takdir, sesuatu yang sudah tuhan berikan kepada kita. You Only Live Once, maka bahagia adalah tugas kita setelah kalian selesai membaca tulisan ini.


   Faktanya, banyak dari kita yang tak tahu, kurang peka, mau tahu, atau bahkan gak peduli, tentang ajang yang satu ini. Asian Para Games, kalian tahu? Saya sendiri termasuk golongan orang yang mau tahu, alias kepo, untungnya. Intinya, Asian Para Games adalah pesta olahraga atlet penyandang disabilitas  se-Asia, seperti halnya Asian Games namun atletnya lebih spesial. Dulu, hanya sebatas itu yang saya tahu, tapi setelah hadir di acara Forum Komunikasi Asian Para Games 2018, beberapa waktu lalu, saya sadar bahwa ‘irama’ ajang yang satu ini begitu sunyi, perlahan, namun penuh kejutan.

"kegiatan sosialisasi Asian Games tidak boleh disatukan dengan Asian Para Games, ini teguran dari komite Asian Games”, kata Pak Raja Sapta Oktohari, ketua Asian Para Games 2018. Keduanya harus fokus, mungkin itu yang saya tangkap dan harus kita pahami. Kurang dari 35 hari lagi Asian Para Games pun aja menjalani test event. Pesta olahraga para difabel ini dipastikan akan berlangsung pada 6 oktober hingga 13 oktober 2018, Indonesia untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah.

Raja Sapta Oktohari
Bukan rahasia umum jika tantangan yang terlihat untuk ajang ini besar banget, tapi banyak pihak yang bermain di belakang layar dengan sangat cantik, perlahan namun pasti, karena sejatinya ajang ini bukan hanya soal olahraga semata, tapi menjadi pembuktian bahwa negara kita bisa ramah terhadap disabilitas. “Yang menarik adalah, buat kami ini bukan sekedar kegiatan olahraga, bukan tentang menang atau kalah, tapi lebih banyak pada misi kemanusiaan, bahwa Indonesia juga bisa menjadi negara yang ramah difabel”, tutup Pak Raja.

NPC Asian Para Games 2018

“Saya bangga menjadi disabilitas”, kata Pak Yasin, perwakilian dari NPC of Indonesia, membuka forum sore itu. Kalimat pembuka yang menarik, tak salah jika gemuruh tepuk tangan seketika ramai terdengar. Kalian tahu apa itu NPC? Atau baru dengar? Baru? Sama! Saya pun baru dengar, hehe. NPC singkatan dari Nasional Paralympic Committe, semacam KONI-nya Indonesia. Adalah satu-satunya organisasi olahraga prestasi bagi para disabilitas/difabel/paralympian/peny. Cacat dan spesial di Indonesia.

Mendukung para penyandang disabilitas adalah hal yang pasti kita lihat dari terbentuknya NPC pada tanggal 31 Oktober 1962, yang semula bernama Yayasan Pembinaan Olahraga Cacat (YPOC). Tapi lebih dari itu, NPC sendiri merupakan organisasi yang mengembangkan dan melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai UU Sistem Keolahragaan No. 3 Tahun 2005, khusunya pasal 30.

‘Pembinaan dan pengembangan olahraga penyandang cacat dilaksanakan, diarahkan, untuk meningkatkan kesehatan, rasa percaya diri, dan prestasi olahraga. Melalui kegiatan penataran, pelatihan, kompetisi, yang berjenjang & berkelanjutan pada tingkat daerah, nasional, maupun internasional.’

Peraga bahasa isyarat juga ada di acara tersebut, sehingga mereka yang tuli juga bisa memberikan saran dan kritiknya
Oh iya, Pak Yasin dulunya atlet loh, dan fase ‘putus asa’ pun pernah ia rasakan pada 1965. “Dulu saya sedih, putus asa karena keadaan cacat, tapi NPC menggodok saya sehingga menjadi seperti ini”, ungkap mantan atlet renang sekaligus tennis lapangan tersebut. Menjadi atlet disabilitas merupakan kebanggan baginya, bahkan ia pun tak pernah menyangka bisa menginjakan kaki di 15 negara di dunia kalau tak menjadi atlet difabel. Dan puncak kebanggaanya menjadi ‘orang cacat’ adalah ketika menjadi bagian dari kebanggan Indonesia pada Olimpiade Yunani 2004. Jujur, saya bangga banget mendengar ceritanya kala itu.

Nama NPC sendiri sebenarnya baru disah kan pada 30 Agustus 2010, setelah sebelumnya bernama YPOC, kemudian berubah lagi menjadi BPOC (Badan Pembinaan Olahraga Cacat) pada 15 Desember 1993. Waw! Perjalanan yang cukup panjang, namun pasti banyak yang gak tahu bahwa NPC ada, hiks. Dan sekarang, adalah momentnya kita tahu lebih banyak lagi tentang NPC, tentang Asian Para Gmes 2018 yang baru pertama kali diadakan di Indonesia, bahkan di dunia pun baru 3 kali. Jalan bagi kita untuk menyongsong Indonesia yang ramah akan difabel. Dalam dunia musik, NPC bak management yang siap menghadirkan penyanyi-penyanyi bertalenta nan memukau.

Pelu kita ketahui, peran NPC tak hanya dalam kemasan olahraga saja, tapi pembentukan atlet yang percaya diri, karena menjadi disabilitas itu gak pernah mudah. Ini peran NPC yang wajib kita ketahui!

  1. Membina, membantu, mengembangkan, dan meningkatkan aktivitas keorganisasian 33 NPC Provinsi yang ada di Indonesia
  2. Mengembangkan SDM Keolahragaan Paralympic
  3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas para atlet dan cabang olahraga
  4. Meningkatkan frekuensi penyelenggaraan kompetisi
  5. Mempertebal/meningkatkan rasa percaya diri dalam bermasyarakat
  6. Mengembangkan & meningkatkan prestasi atlet Indonesia agar go internasional
  7. Mencarikan lapangan kerja, PNS, Perumahan, hadiah dan bonus bagi atlet yang berprestasi.


Memahami dan Berpartisipasi Dalam Asian Para Games 2018

Total 3000 lebih atlet dari 43 negara siap bertanding dalam 18 cabang olahraga di Asian Para Games 2018, diantaranya ada Para Athletic, Archery, WC Fencing, Goal Ball, WC Tennis, Badminton, Tenpi Bowling, Table Tennis, Lawnbowl, Para Swimming, WC Basket ball, Cycling, Volley Ball Sitting, Para Powerlifting, Boccia, Chess, Judo, and Para Shooting. Dan Indonesia nampak siap menjadi juara umum mengulang kesuksesan pada ajang Asean Para Games 2017 di Malaysia, tahun lalu. Amin.

"kita harus objektif, memandang permasalahan sesuai proporsinya", salah satu kalimat yang saya suka pada perbincangan sore itu, keluar dari mulut Pak Gufron selaku ketua PPDI sekaligus Deputi 2 Asian Para Games Community. Yang bertanding memang para difabel, tapi kita yang ‘merasa’ normal juga bisa ikut terlibat dalam ajang yang satu ini dengan menjadi volunter, seperti keterlibatan banyak orang pada event-event umumnya.

Pak Gufron saat memberikan penjelasannya
Karena yang harus kita sadari, masalah disabilitas bukanlah soal 'kekurangan' ataupun keterbatasan, melainkan masalah lingkungan sekitar, cara kita memandang dan menganggap keberadaan mereka. Lingkungan yang inklusi adalah kunci kita memahami dan berpartisipasi. Lingkungan yang membuat kita sadar untuk saling menghargai danmerangkul dalam sebuah perbedaan, sebuah masyarakat yang mampu menerima berbagai bentuk keberagaman dan perbedaan serta mengakomodasi ke dalam tatanan maupun infrastruktur yang ada di masyarakat.

Untuk di Asian Para Games 2018 ini, kalian yang ingin menjadi volunteer bisa langusng mendaftarkan diri melalui www.asianparagames.com/volunteer. Dukung, rasakan iramanya, dan jadilah bagian dari bukti nyata bahwa Indonesia siap menjadi negara yang ramah disabilitas.

You Might Also Like

0 comments