MEMORIES

8:15:00 AM

Kenapa rayap tak menghabiskan lembaran ini, kenapa menyisakannya? Bahkan masih terlihat jelas potongan masa lalu saat rambut ini masih berponi. Model batok, kalau kata teman-teman saya kala itu. Genggaman tangannya kembali terasa. Kenanganku bersama Nenek, adalah ketika ia sibuk curhat dengan wali kelasku saat pengambilan rapor, lama banget, dan 21 Juli 2017 ia jadikan hari spesial untukku selalu mengingatnya. Dengan kesedihan. Kalau di film-film, pasti sudah ada suara biola mengiringi saat saya menemukan album foto tersebut.


   Best nine 2017 mulai bermunculan, sayapun ikut-ikutan, bahkan sebuah resolusi telah saya ceritakan sebagai penyemangat memulai tahun baru. Bak ritual wajib penutup tahun, membereskan kamar dengan seberes-beresnya harus saya lakukan, hingga akhirnya saya menemukan sekumpulan foto dari saya kecil hingga menggunakan putih abu-abu, kemudian proses pemberesanpun terhenti. Tak terselamatkan. Saya lelah tak menemukan daratan dan tenggelam. Wanita tua yang masih terlihat segar itu nampak sangar menatap kamera, kenanganku bersama nenek adalah ketika kami berfoto bersama setelah saya selesai foto untuk keperluan administrasi masuk sekolah.

Saya sadar, saya telalu sibuk menyimpan kenangan di media sosial, instagram salah satunya, dan kebanyakan hanyalah foto saya sendiri. Saya suka, apalagi proses editingnya yang mainin taste banget seperti memperhatikan filter, brighness, contrast hingga saturationnya. Kids zaman now pasti ngerti banget hal ini. Tapi sebenarnya gak perlu tuh proses editing kalau kalian sudah tahu ‘best angle’ kalian di mana, pencahayaan, gaya andalan hingga outfit terbaik yang kalian miliki, harus dipersiapkan sebelum eksekusi tentunya.

Nah, ngomongin outfit nih ya, saya tuh kadang merasa kalau fashion pria secara general wajib deh punya celana jeans, cewek juga sih ya, tapi bener gak sih kalau saya bilang produk cowok tuh belinya agak susah, mahal plus jarang yang beragam, gitu-gitu ajah. Hiks. Celana jeans itu salah satunya, saya tuh kalau beli celana pasti minta temenin temen, buat ngasih saran ini-itu, cocok atau gaknya, plus ‘masuk akal gak harganya’. Dan temen saya itu teliti banget, saya ingat dan sedikit belajar dari cara dia memilih celana jenas yang baik dan benar ‘kata dia’, seperti memilih bahan yang adem serta gak terlalu norak warnanya karena kadang luntur kalau di cuci, mereknya juga harus terpercaya, jangan yang abal. Model celananya pun juga harus kekinian, jangan jadul.

Kadang bingung sih kalau harus beli sendiri, milih yang ringan tuh yang bagaimana, jalan satu-satunya ya dicoba, kalau pas di kaki dan paha terus nyaman digunakan, otomatis celana tersebut siap kalian beli. Pemilihan warnanya pun jangan lupa, selain jangan warna yang ‘ngejreng’, pastikan kalian pilih warna hitam atau cokelat tua, saya sangat merekomendasikan karena pas untuk di sandiongkan dengan kaos atau atasan warna apa saja, dan tentunya tak mudah kotor. Dan urusan harga, saya lebigh memilih yang mahal dan bermerek sekalian dibandingkan yang ‘murah’, kecuali bermerek tapi diskon, haha. Tapi jujur, saya sih biasanya minta tolong sama temen, hehe. Lebih meyakinkan gitu.

Sebelum mengandalkan teman dalam hal berbelanja celana, Nenek saya selalu lihai dalam hal tersebut, saya ingat bagaiamana ia suka sekali menawar, pintar, meskipun pada akhirnya ia membayar lebih, tawar menawar hanya sebagai syarat wajib belanja baginya. Kenanganku bersama nenek juga ada di toko pakaian yang tepat berada di sebelah studio foto. Sekarang, sepasang saksi bisu itu mungkin sudah tak ada, jika masih ada pun saya tak ingin ke sana, selain terlalu menyimpan banyak kisah, saat ini saya juga lebih sering belanja online, lihat keterangan pakaian dengan detail dan memilih toko inline yang terpercaya adalah hal yang saya andalkan jika berbelanja online.

21 Juli 2017 ia jadikan hari terakhirnya melihatku, atau mungkin hari terakhirku melihatnya, aku menagis dan ia tersenyum. Selanjutnya, saya mencoba menghela nafas sambil membuka lembar kenangan berikutnya, manis, Ibuku sewaktu muda tersenyum, rambut bondolnya membuatku seperti bercermin. Jika kalian bertanya kenapa saya suka sekali cokelat, dialah yang mungkin harus bertanggung jawab, setiap pulang kerja beliau pasti membawakannya, merek dan rasa apapun, waktu kecil semua cokelat sama di lidah saya.

Kalau saya ingat, di instagram juga tak ada foto ibu saya, beliau sudah tak pernah mau untuk diajak foto, dan saya bahagia ketika menemukan foto yang saya genggam itu. Saatnya menjelajah, dan saatnya bermain dengan masa lalu, kembali.

You Might Also Like

2 comments

  1. Mak juga kalau beli pakaian atau celana jeans untuk Si Mas lebih memilih kenyamanannya dan modelnya. Mahal sedikit gak pa pa asal nyaman dipakainya dan berkualitas. Tapi belum berani sih untuk beli online karena takut gak cocok dipakainya. Belum nemu aja sptnya toko online yg klik dihati.

    ReplyDelete