Mitos & Fakta Pendakian Gunung? Ini Kata Medis RS Firdaus Jakarta

1:16:00 PM

"Mereka naik gunung kan hobi, gwa sih profesi” kata Medina Kamil, salah satu pemain dalam film Negeri Dongeng, buat kalian yang belum tahu filmini menceritakan tentang 7 pendakian puncak tertinggi tanah air, seru, wajibkalian saksikan jika nanti sudah tayang di bioskop. Kedatangan saya pada acara yang bertajuk ‘Diskusi Santai, Membongkar Fakta dan Mitos Pendakian Gunung’ berawal dari rasa penasaran oleh kalimat tadi, mungkin sama dengan blogger yang saat ini bisa ‘dikatakan’ profesi untuk sebagian orang, pendaki pun mengalaminya, dengan kata lain istilah “hobi jadi profesi” adalah fakta. Awalnya saya ingin menanyakan hal ini lebih detail lagi pada ahlinya, Harley Bayu Sasta, yang sudah terkenal dikalangan para pendaki gunung, saya kepo maksimal, tapi nampaknya waktu tak bersahabat kala itu, ada sisi lain yang lebih penting untuk dibicarakan, yaitu sisi medis.


   Langkah yang sangat pintar dari Klub Buku & Blogger Backpacker Jakarta, dengan menggandeng Rumah Sakit Firdaus Jakarta Utara, Diskusi Santai yang mengangkat tema Membongkar Fakta & Mitos Pendakian Gunung sukses digelar pada Minggu, 20 Agustus 2017 bertempat di Casapatsong’s Kitchen, Cikini, Jakarta Pusat. Mengapa saya sebut pintar? belakangan ini saya merasa banyak orang yang menaiki gunung hanya karena tergiur mendapatkan foto yang kekinian saja, kita seharusnya belajar dari peristiwa yang dilalui Mba Siti Maryam, salah satu member dari Backpaker Jakarta, dirinya dikabarkan hilang saat mendaki Gunung Rinjani beberapa waktu lalu, 4 hari 3 malam, kalau di hotel berbintang pasti enak, lah ini di gunung. Melalui sisi medis RS Firdaus, diskusi santai ini berusaha menyeimbangkan rumor yang beredar.

Mba Nisa, selaku Manager Marketing Rumah Sakit Firdaus Jakarta Utara menjadi moderator untuk acara itu, sedikit tentang RS Firdaus yang dulunya adalah rumah sakit khusus paru, awalnya di tahun 1995 hanyalah klinik praktek umum DR Bahtiar Husein dan kemudian berkembang karena animo masyrakat yang cukup besar besar sehingga pada tahun 1998 klinik umum ini berubah menjadi praktek dokter umum bersama 24 jam, dan diresmikan menjadi Rumah Sakit Khusus Paru pada 2011, kemudian di November 2016 RS khusus ini menjadi Rumah Sakit Umum Firdaus tipe C dengan kapasitas kurang lebih 100 bed. ‘Melayani dengan hati’ adalah fokus dari RS ini dengan menghadirkan 5 pelayanan utama, diantaranya Bedah, Anak, Kandungan, Paru dan Kulit. RS ini juga melayani BPJS loh, sesuai dengan jargon mereka yaitu Pelayanan BPJS Terbaik Di Jakarta Utara. Dan dengan acara ini, RS Firdaus berkomitmen untuk ikut memberikan pengetahuan lebih akan kesehatan secara berkeseinambungan. “Fungsi rumah sakit bukan hanya mengobati tapi juga memberikan informasi kesehatan, edukasi kesehatan dan pencegahan penyakit” tegas Mba Nisa.

MITOS & FAKTA PENDAKIAN, DI MATA PENDAKI

Bisa dibilang ini orang yang saya tunggu, tampilannya anak gunung banget, kidding, Harley Bayu Sasta, seorang pendaki gunung sejak 1987 yang juga merupakan pendiri dan redaktur Mauntmag. Sebagai pembuka, dirinya mengajak saya (dan yang lain tentunya) untuk mengenal sang penjaga hutan, Orangutan yang selama ini telah menjaga paru-paru Indonesia. “Kita sebagai pejalan, juga harus merubah mindset kita bahwa perjalanan bukan hanya bicara tentang destinasi, tapi kita harus mulai memahami bahwa disana ada apa, kita melakukan apa dan ada masalah apa disana” katanya. Saya sangat setuju, saya pribadi sekarang kalau traveling ke suatu tempat sudah tak terlalu memikirkan “nanti ditujuan ada apa, foto gaya apa, dll”, sekarang saya lebih membanyangkan dan menantikan perjalanannya yang membuahkan cerita seru, khusus untuk para pendaki harus ditanamkan bagaimana cara menjaga dan melestarikan alam, karena lestarinya alam adalah kehidupan kita di masa depan. Catet yaw!

Harley B Sasta

Lantas, bagaimana dengan mitos atau sisi ‘horor’ di beberapa pendakian? Ada hal-hal yang berkaitan antara mitos, fakta dan medis, sangat tipis antar ketiganya, misal ada hutan larangan yang melarang kita untuk melakukan ini-itu, dan ternyata itu berkaitan dengan kelestarian kawasan,  juga dari sisi paramedis. Katanya kalau ke Rinjani gak boleh naik ketika datang bulan? dari pandangan Mas Harles memang tidak boleh karena emosi wanita yang datang bulan tidak stabil, mudah lelah dan nantinya ribet dalam membuang sampah jika mengganti pembalut, iyakan. Mitos dan fakta pendakian sebenarnya memiliki pandangan yang masuk akal, namun semua kembali para mindset kita, tapi sebagai orang yang beriman kita wajib percaya akan hal ghaib tersebut.

 “Hormati dan ikuti aturan serta budaya yang berlaku di setiap detinasi, dan selalu ingat bahwasannya kita adalah tamu” 
(Harles B Sasta)


MITOS & FAKTA PENDAKIAN, DI MATA PETUALANG

Pembicara selanjutnya juga tak kalah seru, bak penari ular, tapi sayangnya ini cowok, hiks. Tyo Survival, MC Jejak Petualang, dan Co-Host nya acara Berburu Trans TV ini berbagi pengalamannya langsung bersama teman nya sore itu, sejak 2007 dirinya sudah dekat dengan hewan reptil, tak salah sambil mengeluarkan ular dari kantung hitam yang dibawanya ia masih senyum-senyum, hehehe. Ular piton hitam-kuning yang tak berbisa itu (katanya) dijadikan pembuktian bahwa menabur garam sebelum mendirikan tenda seperti yang biasa kita lakukan adalah mitos, ular tak takut dengan garam. Fakta sebenarnya justru garam dijadikan sebagai media doa pada zaman dahulu untuk mengusir ular, jadi bukan garam yang mungkin berpengaruh mengusir ular tapi doa.

Tyo Survival

Kisah Mba Siti Maryam dan Mas Edi M Yamin saat beberapa waktu lalu mendaki Gunung Rinjani juga membuka mata saya kalau mendaki gunung itu masalah yang rumit banget, lebih dari sekedar permasalahan fisik tapi juga permainan pikiran, cerita yang mereka tuturkan memang sulit diterima akal sehat, namun Mba Siti berhasil bertahan di Gunung Rinjani selama 4 hari 3 malam tanpa makan, waw, hanya berbekal madu dan permen katanya. Mba Siti membuktikan bahwa keinginan yang kuat untuk ‘kembali’ adalah kunci dari peristiwa aneh yang ia alami, mindset dan keinginan untuk terus hidup harus kuat juga bukan hanya fisik, jadi pas kalian naik gunung jangan lupa orang rumah yang menunggu ya, ingat mamah-papah, pacar, anak, sahabat, ingat aku juga kalau perlu, aihhhh.

 
MITOS & FAKTA PENDAKIAN, DI MATA MEDIS

Terus penjelasan medis nya bagaimana? dr Ridho Adriansyah, salah satu dokter yang berpraktek di RS Firdaus angkat bicara akan banyaknya mitos dan fakta yang kafang ‘aneh’ jika dipikirkan tadi,“mendaki itu kegiatan yang banyak disukai orang saat ini, mereka ingin mendapatkan kepuasan tersendiri, harus dialami, baru terasa enaknya mendaki seperti apa” ujar pak dokter, dari kalimat tadi saya menyimpulkan benar adanya jika mendaki adalah penemuan jati diri, lewat film Negeri Dongeng juga para pendaki bercerita bahwa mereka kadang berbicara pada diri sendiri, kuat atau tidak kuat, lanjut atau tidak, bahkan pertanyaan “ini nyata atau tidak”. Semua berawal dari diri sendiri yang kemudian para pendaki berusaha menenggelamkan rasa egois yang mereka miliki untuk menentukan jawaban-jawaban atas pertanyaan tadi. Tapi, dunia medis adalah dunia yang memiliki alasan struktural, jika melihat kasus Mba Siti yang bisa bertahan 4 hari 3 malam tanpa makanan berat, tentu bisa saja, namun pasti ada kerusakan pada organ-orang tubuh tertentu.

dr Ridho Adriansyah

Dalam pendakian yang saat ini semakin populer, ada 3 jenis masalah baru yang ditemukan dan sangat mengkhawatirkan, perlu adanya tindakan lanjut, tak boleh disepelekan, diantaranya

1. Acute Mountain Sickness (AMS)
Terjadi pada ketinggian 3500 MDPL saat oksigen semakin menipis. Secara otomatis dalam waktu 4 jam hingga 1 hari tubuh kita akan terus beradaptasi dengan cara bernafas lebih cepat dan jarang kencing, jika kita terkena AMS maka akan timbul gejalanya, sakit kepala, lemas, lelah, kaki dan tangan bengkak maka itu sudah terkena AMS, solusinya minum paracetamol dan istirahat selama 15 menit, jiak ingin melanjutkan perjalan maka jangan terlalu cepat.

2. High Altitude Cereberal Edema (HACE)
Ini lanjutan dari kasus yang pertama jika dipaksakan, gejalanya lebih berat, otak nya membengkak karena terisi cairan yang kemudian hilang kesadaran.

3. High Altitude Pulmonary Edema (HAPE)
Dan Ini yang paling parah karena paru-paru kita akan langsung terisi cairan karena efek dari HAPE, biasanya terjadi 2-4 hari kemudian setelah terkena AMS/HACE. Bisa mati mendadak!

Tapi, ketiga masalah tadi nampaknya tak ada di Indonesia karena ketinggian gunung kita yang tak mumpuni, paling hanya Jayawijaya yang berlaku, beruntung ya, hehehe.... So, itulah sedikit info yang harus kalian ketahui jika ingin naik gunung, jangan karena ikut-ikutan ya, karena dibalik banyak foto keren, kekinian atau pun instagramble yang kalian lihat, naik gunung itu butuh banyak strategi dan pengorbanan, persiapkan semuanya sedetail mungkin. Berikut tips dari Pak Dokter.....

  1. Pastikan kondisi fisik dan mental dalam keadaan sehat.
  2. Persiapkan penghangat tubuh seperti jaket, celana gunung, makanan, air serta obat-obatan dan juga perlengkapan mendaki lainnya. Nah, saya ada saran nih kalau kalian mau cari peralatan gunung yang terpercaya, beli aja di Dhaulagiri, lengkap loh ada tenda, kasur, bantal tiup dan perlengkapan mendaki lainnya yang bermanfaat banget. Infonya bisa kalian cek di instagram @dhaulagiri_outdoor.
  3. Pastikan membawa pakaian ganti yang cukup.
  4. Olahraga rutin sebelum mendaki gunung.
  5. Patuhi peraturan yang berlaku.
  6. Pastikan selalu berdoa, dan niatkan bahwa kegiatan yang dilakukan semata untuk menikmati keindahan yang tuhan ciptakan.
  7. Jangan mendaki sendirian, cari teman, bisa loh gabung sama komunitas Backpaker Jakarta.
  8. Jangan memaksakan kehendak, jujur, jika tidak kuat saat mendaki bilang, jangan malu.


Tubuh kita memiliki limit, dan masing-masing orang berbeda, jangan dipaksakan
 (dr Ridho Adriansyah)



You Might Also Like

4 comments